KTI Penelitian Pengembangan (RD)

PENGEMBANGAN PROGRAM APLIKASI MULTIMEDIA INTERAKTIF

UNTUK SIMULASI

PENILAIAN KINERJA PENGAWAS SEKOLAH 2012

DALAM  DIKLAT PK PENGAWAS LPMP JAWA TENGAH

Drs. Sri Wasono Widodo,M.Pd.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

ABSTRAK

Widodo, Sri Wasono. 2012. “Pengembangan Program Aplikasi Multimedia Interaktif untuk Simulasi Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah 2012 dalam Diklat PK Pengawas LPMP Jawa Tengah”. Laporan Penelitian Pengembangan (RD).

Latar belakang RD ini adalah perlunya meningkatkan keefektivan kegiatan simulasi penilaian kinerja pengawas sekolah 2012. Untuk itu diperlukan suatu program aplikasi yang dapat meningkatkan keefektivan kegiatan tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat interaktif sehingga dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam simulasi penilaian kinerja pengawas sekolah. Spesifikasi program aplikasi yang dirancang berbasis VBAExcel. Produk diuji coba secara terbatas. Instrumen RD berbentuk angket yang telah divalidasi. Produk didiseminasikan dalam diklat dan diunggah ke ziddu.com dan laporan penelitian diunggah di web LPMP Jateng.

Kata Kunci : Simulasi, Program Aplikasi, Multimedia Interaktif, Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah.

I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 1). Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 2). Dalam rangka mewujudkan guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang profesional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan terkait dengan Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah.

Penilaian kinerja dimaksudkan untuk menjaga profesionalitas  dalam melaksanakan tugas pengawas sekolah, sehingga berdampak pada pembinaan karir, peningkatan kompetensi, dan pemberian tunjangan profesi pengawas sekolah. Untuk mempersiapkan pelaksanaan penilaian kinerja yang akan efektif pada 1 Januari 2013, perlu dilakukan sosialisasi dan bimbingan teknis kepada seluruh unsur di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pemangku kepentingan pendidikan di tingkat daerah. Dalam kerangka kerja inilah diselenggarakan serangkaian tahapan kegiatan diklat PKPS. Tahapan dimulai dengan Training of Trainer (ToT) National Core Team (NCT) dilanjutkan dengan diklat untuk mempersiapkan Tim Penilai PKPS di LPMP jawa Tengah.

Media diklat yang interaktif berbasis teknologi informasi dan komunikasi bisa meningkatkan keefektivan pembelajaran. Pemanfaatan media dengan memperhatikan prinsip-prinsip andragogis dan teori pembelajaran orang dewasa menjadi komponen vital dalam suatu kegiatan diklat (Wang: 2010).

Kegiatan pengembangan media diklat melalui suatu kegiatan penelitian pengembangan (research and development/RD) yang hasilnya dituangkan dalam suatu tulisan, dapat dikategorikan sebagai kegiatan karya tulis ilmiah (KTI). Kegiatan penelitian ini menjadi salah satu indikator kompetensi profesional seorang widyaiswara. Kemampuan menulis ini dapat mendukung tugas utama widyaiswara yaitu mendidik, mengajar, dan melatih dalam kegiatan diklat. Pengembangan media juga berfungsi untuk meningkatkan keefektivan proses pembelajaran dalam diklat (lampiran Peraturan Kepala LAN No,9 Tahun 2008).

Dalam kegiatan simulasi PKPS, peserta diklat harus berlatih memahami cara pengisian instrumen PKPS dan menghitung skor, nilai kinerja komponen, dan  nilai kinerja keseluruhan secara akurat sehingga ketika PKPS yang sesungguhnya berlangsung kegiatan bisa berjalan efisien dan efektif. Instrumen penilaian kinerja pengawas sekolah edisi revisi dari Pusat Pengembangan Profesi Pendidik (Pusbangprodik) Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP dan PMP) belum disertai dengan program aplikasinya. Peneliti memandang perlu untuk mengembangkan program aplikasi yang bisa mendukung baik kegiatan simulasinya maupun kegiatan pelaksanaan PKPSnya.  Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, Peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan Program Aplikasi Multimedia Interaktif untuk Simulasi Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah 2012 dalam Diklat PK Pengawas LPMP Jawa Tengah”

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Bagaimana mengembangkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator mengajar dan melatih PKPS.
  2. Bagaimana mengembangkan program aplikasi yang dapat membantu peserta diklat dalam melakukan simulasi PKPS.
  3. Bagaimana merancang bangun program aplikasi yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan PKPS secara efisien dan efektif.

C.    Tujuan Penelitian Pengembangan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah:

  1. Menghasilkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator mengajar dan melatih PKPS.
  2. Menghasilkan program aplikasi yang dapat membantu peserta diklat dalam melakukan simulasi PKPS.
  3. Menghasilkan program aplikasi yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan PKPS secara efisien dan efektif.

D.    Manfaat Penelitian Pengembangan

Manfaat dari penelitian ini adalah:

  1. Bagi fasilitator diklat. program aplikasi yangdihasilkan berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantunya dalam mengajar dan melatih PKPS.
  2. Bagi peserta diklat, program aplikasi yang dihasilkan dapat membantunya dalam melakukan simulasi PKPS.
  3. Bagi pengguna, program aplikasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk melaksanakan PKPS secara efisien dan efektif.

 E.     Definisi Operasional

Dalam suatu penelitian pengembangan program aplikasi digunakan beberapa istilah yang spesifik. Untuk mempermudah pemahaman pembaca karya tulis ini, berikut dideskripsikan beberapa istilah yang banyak digunakan. Beberapa istilah tersebut beserta penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Diklat PKPS adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan mempersiapkan tim  penilai PKPS tahun 2012 yang persertanya adalah Ketua Dewan Pendidikan dan Koordinator Pengawas setiap kabupaten atau kota di JawaTengah.
  2. Simulasi PKPS adalah mata diklat atau kegiatan dalam diklat PKPS yang mensimulasikan proses penilaian ketika PKPS berlangsung.
  3. Multimedia diklat interaktif adalah alat bantu pembelajaran dalam suatu kegiatan diklat yang memiliki karakteristik peserta diklat dapat memberikan kontrol terhadap alat tersebut sehingga ia dapat mereview materi sesuai kepentingan individualnya dalam berinteraksi dengan materi diklat.
  4. Multimedia interaktif tipe hypertex tool  adalah linking dari data, kata atau frasa ke data, kata atau frasa lain dalam satu atau lain dokumen yang direkayasa untuk interaktivitas dari suatu multimedia dalam kegiatan diklat.
  5. Pemrograman VBA Excel adalah bahasa pemrograman Visual Basic Application pada Excel Microfoft Office 2007 dengan platform operating system Windows XP atau generasi sesudahnya.
  6. Kinerja media diklat yang efektif adalah suatu kondisi di mana hasil uji coba terbatas di lapangan menunjukkan media tersebut mampu membantu peserta diklat mensimulasikan proses PKPS.

F.     Asumsi dan Keterbatasan

1.        Asumsi

Asumsi dalam penelitian ini adalah:

  1. Responden memberikan informasi secara jujur dan benar, terhadap media diklat yang digunakan dalam simulasi melalui angket respon peserta diklat.
  2. Peneliti menuliskan hasil pengamatan terhadap penggunaan media diklat interaktif pada kegiatan simulasi secara akurat, objektif dan jujur ke dalam lembar pengamatan. Dengan demikian hasil pengamatan tersebut tidak direkayasa oleh peneliti agar hasil yang diperoleh akuntabel.
  3. Perubahan yang terjadi dari instrumen PKPS yang dikembangkan Pusat Pengembangan Profesi Pendidik (Pusbangprodik) harus diikuti dengan perubahan program aplikasinya.

2.        Keterbatasan

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah:

  1. Desain program aplikasi media diklat dalam penelitian ini terbatas hanya berbasis hypertext tools.
  2. Program aplikasi hanya dipergunakan untuk simulasi PKPS secara individual, belum bisa digunakan.
  3. Program aplikasi hanya terbatas menganalisis data, bukan interpretasinya.

 II.      KAJIAN TEORI

A.    Simulasi Penilaian Kinerja Pengawas

Salah satu standar yang memegang peran penting dan strategis dalam peningkatan mutu  pendidikan  adalah  standar pendidik dan tenaga kependidikan. Pengawas satuan pendidikan merupakan salah satu komponen tenaga kependidikan yang perlu ditingkatkan mutunya.

Peran pengawasan pendidikan diatur secara khusus dalam PP 19 Tahun 2005 Pasal 55 dan 57 tentang Standar Pengelolaan yang meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Pengaturan pengawasan pendidikan diatur pula dalam PP 74 Tahun 2008 tentang Guru pada Pasal 15 ayat 4 menjelaskan  bahwa guru yang diangkat menjadi pengawas satuan pendidikan melaksanakan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya selanjutnya menjadi acuan operasional yang menjadi landasan utama dalam melaksanakan tugas pokok pengawas sekolah. Istilah Pengawas Satuan Pendidikan yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 berubah penyebutan sesuai dengan Permenpan Nomor 21 Tahun 2010 menjadi Pengawas Sekolah. Berdasarkan itu, sebutan Pengawas Sekolah berlaku pula untuk pengawas di lingkungan Kementerian Agama.

Permenpan Nomor 21 Tahun 2010 menyatakan bahwa pengawas sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan yang memegang peran strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah dan mutu pendidikan di sekolah. Tugas pokok pengawas sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) standar nasional pendidikan, penilaian kinerja guru dan kepala sekolah, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, pengawas sekolah berfungsi sebagai supervisor pendidikan atau pengawas pendidikan, baik pengawasan akademik maupun maupun pengawasan manajerial. Berkaitan dengan sasaran pengawasan akademik, pengawas sekolah bertugas membantu dan membina guru meningkatkan profesionalismenya agar dapat mempertinggi kualitas proses dan hasil belajar siswa. Berkaitan dengan  pengawasan manajerial, pengawas sekolah bertugas membantu kepala sekolah dan seluruh staf sekolah agar dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan pada sekolah yang dibinanya.

Dari uraian di atas dapat diidentifikasi bahwa yang semula terdapat istilah yang sangat populer dalam konteks tugas pengawasan yaitu supervisor,  dengan terbitnya Permenpan No 21 Tahun 2010,  istilah supervisi berubah menjadi pengawasan.

Prestasi kerja pengawas sekolah dalam menunaikan tugas pokoknya perlu mendapat penilaian. Untuk  melaksanakan penilaian kinerja pengawas sekolah, diperlukan pedoman penilaian kinerja. Berkenaan dengan itu, Pusbangprodik BPSDMP dan PMP Kementerian Pendidikan Nasional telah menyusun Pedoman Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah sebagai panduan semua pihak yang terkait untuk menghimpun data kinerja pengawas sebagai dasar untuk mengembangkan fungsi pengawasan pendidikan dan pengembangan karir pengawas.

Aspek yang dinilai pada penilaian kinerja pengawas sekolah mengacu kepada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan RB Nomor 21 Tahun 2010  yang meliputi:

  1. Penyusunan program pengawasan
  2. Pelaksanaan program pengawasan
  3. Evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan
  4. Pembimbingan dan Pelatihan profesional guru dan/ atau kepala sekolah
  5. Pelaksanaan tugas di daerah khusus.

B.     Media Diklat Interaktif

Menurut Schunk (2012: 345), penggunaan media yang efektif dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat memberikan motivasi belajar. Sedangkan motivasi belajar yang terakomodasi dengan efektif akan meningkatan hasil belajar. Hal ini dapat Kita generalisasikan pada kegiatan diklat. Kebutuhan akan media diklat menjadi keniscayaan ketika materi diklat terkait dengan pemahaman praktikal. Kegiatan pembelajaran dalam suatu kegiatan diklat dengan materi yang menuntut pemahaman praktikal, membutuhkan media pembelajaran yang baik.

Multimedia Interaktif merupakan  istilah yang seringkali digunakan di dalam teknologi pendidikan terutama pada era revolusi teknologi informasi dewasa ini. Dalam peristilahan yang digunakan secara luas, istilah tersebut memiliki arti yang amat beragam pada spektrum media massa baik bahan cetak, audio, video, maupun teknologi yang dikembangkan berbasis paket piranti keras dan piranti lunak komputer yang diproduksi secara massal serta memungkinkan penggunaan secara individual untuk belajar. Istilah multimedia bisa digunakan pada berbagai level belajar berupa perangkat pendidikan yang memungkinkan keanekaragaman presentasi materi pelatihan.

Multimedia merupakan kombinasi fungsional dari piranti keras dan piranti lunak komputer yang dalam pengembangnya memungkinkan pengintegrasian video, animasi, audio dan grafis untuk dikembangkan menjadi alat presentasi pada desktop komputer (Fenrich dalam Reddi, 2003: 4). Multimedia juga bisa dimanai sebagai alat presentasi yang memiliki karakteristik kombinasi fungsional dari teks, gambar, suara, animasi, dan video, yang beberapa diantaranya atau seluruhnya diorganisasikan menjadi suatu program yang koheren (Phillips dalam Reddi, 2003: 4). Dari dua  pendapat tersebut, dapat dicari kesamaannya bahwa multimedia merupakan kombinasi fungsional yang diprogramkan secara teliti dari beberapa elemen yang meliputi teks, grafis, suara, animasi, dan video.

Dari terminologi multimedia kemudian dielaborasi menjadi Multimedia Interaktif.  Komponen interaktivitas suatu multimedia menggambarkan bahwa end user  multimedia tersebut ataupun audien dapat melakukan kontrol ‘apa’, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’  dari elemen tersebut muncul dan dipresentasikan. Dari deskripsi di atas multimedia interaktif dapat didefinisikan sebagai kombinasi sinergis dan simbiotis dari berbagai elemen media (audio, video, grafis, teks, animasi, dsb,) ke dalam suatu kesatuan program sehingga memberikan manfaat yang lebih optimal kepada end user dibandingkan bila elemen-elemen  tersebut berfungsi secara mandiri.

C.  Multimedia Interaktif Tipe Hypertext

Multimedia Interaktif merupakan kombinasi dari berbagai fungsi tools yang ada dalam program komputer, antara lain grafis, suara, video, animasi dan teks. Berdasarkan jenis elemen-elemen yang dikombinasikan, Multimedia Interaktif dapat diklasifikasi ke dalam beberapa tipe. Reddi (2003: 13) mengelompokkan desain multimedia menjadi lima kategori: Painting and drawing tools, 3-D Modeling and animation tools, Image editing tools, Sound editing tools, dan Animation Video Digital Movie tools.  Sedangkan Fahy (2003: 5) mengemukakan ada lima spesifikasi multimeia interaktif berdasarkan karakteristik fungsionalnya yaitu: sound, graphics and color, animation, video, hypermedia, dan hypertext.

Berdasarkan klasifikasi di atas, maka desain multimedia yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah tipe hypertext. Tipologi ini merupakan linking  dari value, kata, atau frasa ke value, kata atau  frasa lain pada dokumen yang sama ataupun pada dokumen berbeda (Fahy, 2003: 5).  Pada hakekatnya hypertext ini sulit dipisahkan dari desain aplikasi multimedia interaktif yang lain. Szabo (dalam Fahy,2003:6) menekankan bahwa seharusnya hypertext  lebih banyak digunakan untuk lebih memperluas akses terhadap informasi yang dibutuhkan, bukan untuk kepentingan aktualita diklat, namun sebagai langkah antisipatif terhadap kebutuhan akan materi pelatihan dalam konteks akselerasi pencapaian tujuan diklat (khususnya bagi peserta diklat yang belum memiliki prasyarat  pengetahuan materi tersebut atau yang kapabilitasnya kurang).

Fahy (2003: 7) mengestimasikan hypermedia dan hypertext memang memiliki prospek cerah untuk digunakan sebagai multimedia interaktif dalam kegiatan pelatihan. Didukung oleh perkembangan yang pesat dari piranti keras, piranti lunak, maupun teknologi  interface manusia-komputer, secara teknis pada saat ini sangat memungkinkan pemanfaatan hiperrmedia dan hypertext untuk pelatihan secara online. Kedua tipe multimedia interaktif ini memiliki keunggulan untuk pelatihan antara lain (Marchionini dalam Fahy, 2003: 8):

  • Sejumlah besar informasi dari berbagai macam media dapat disimpan dalam bentuk yang kompak dan mudah untuk diakses.
  • Hypermedia dan Hypertext memungkinkan kontrol dari peserta diklat secara leluasa (end users dapat secara leluasa memilih kapan, apa, dan bagaimana link yang diperlukan).
  • Hypermedia dan Hypertext memungkinkan fasilitator dan peserta diklat memiliki banyak ragam cara interaksi yang baru, memberikan reward kepada peserta diklat yang mampu mengasah keterampilan belajarnya secara mandiri, dan meningkatkan kreativitas fasilitator diklat dalam hal bagaimana cara ia berinteraksi dengan peserta diklat.

D.    Visual Basic Application Excel

VBA merupakan kependekan dari Visual Basic for Applications. Aplikasi Visual Basic di dalam Excel 2007 menjadi salah satu bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Microsoft. Excel adalah salah satu elemen dari Microsoft Office 2007. VBA merupakan alat yang bisa Kita pergunakan untuk mengembangkan program yang mengontrol Excel. Kita harus membedakan VBA dengan VB yang merupakan kependekan dari Visual Basic. VB merupakan bahasa pemrograman yang memungkinkan Kita membuat program executable (File exe) mandiri. Jadi, VBA berbeda dengan VB (Walkenbach, 2003: 6).

E.     Aplikasi Multimedia Interaktif dalam Simulasi PKPS

Karena merupakan bahasa pemrograman yang riil dan live, VBA mempergunakan banyak elemen bahasa pemrograman yang sering dipergunakan. Di antara beberapa elemen bahasa pemrograman tersebut adalah: comments, variables, constants, data types, dan arrays (Walkenbach,  2004: 89).

Dalam pemrograman VBA Excel 2007 beberapa tipe data digunakan. Tipe data merupakan istilah yang biasa dipergunakan untuk menyebutkan bagaimana cara dari suatu program menyimpan data dalam memori — sebagai misal, integers, real numbers, atau data strings. Meskipun VBA dapat menangani detail tipe data tersebut secara otomatis, namun ada konsekuensi yang harus diperhitungkan.  Namun konsekuensinya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaatnya. Misalkan Kita tidak mempergunakan VBA untuk menangani entri data menyebabkan eksekusi menjadi lambat dan penggunaan memori yang tidak efisien. Untuk aplikasi yang sederhana, hal seperti ini tidak menjadi masalah yang serius. Namun untuk aplikasi yang lebih besar dan lebih kompleks akan menyebabkan kerja program menjadi lambat atau membutuhkan konservasi setiap memori yang tersisa, Pada saat itulah Kita membutuhkan pengenalan yang lebih mendalam tentang tipe data (DeMarco, 2007: 30).

VBA memang secara otomatis menangani semua data secara detail, yang membuat Kita menjadi nyaman dalam melakukan pemrograman. Tidak semua bahasa pemrograman memberikan kenyamanan seperti ini. Misalnya, ada bahasa pemrograman yang semata-mata hanya mengetik saja, sehingga seorang pemrogram harus secara eksplisit mendefinisikan secara operasional tipe data untuk setiap variabel yang digunakan (Walkenbach, 2007: 97).

Dengan VBA Excel memungkinkan kita menggunakan menu yang disebut UserForm. Excel 2007 memungkinkan Kita bisa menciptakan screen data entri yang mudah digunakan oleh end users.  Program seperti ini dapat juga berfungsi sebagai wahana display untuk summary data ataupun data itu sendiri dari berbagai sumber data.  Program ini juga menyediakan untuk Kita tools yang Kita butuhkan untuk menciptakan “wizard” aplikasi atau form data entri sederhana  (DeMarco, 2008: 30).

Bahasa pemrograman VBA dalam Excel menurut John Green (2007: 30) terdiri dari beberapa elemen yang berlaku secara umum untuk semua versi VB dan aplikasi Microsoft Office. Contoh-contoh berikut merupakan bahasa yang memanfaatkan model objek Excel, namun tujuannya adalah menguji struktur umum dari bahasa pemrograman. Beberapa dari struktur dan konsep tersebut dikenal oleh bahasa pemrograman yang lain, meskipun sintaks dan kata kuncinya bisa sangat bervariasi. Elemen tersebut adalah sebagai berikut:

  • Penyimpanan informasi dalam variabel dan array.
  • Pembuatan keputusan dalam kode
  • Penggunaan loops.
  • Penanganan basic error.

Penggunaan VBA dalam Excel memiliki beberapa keunggulan (Walkenbach, 2007: 15), antara lain:

  • Excel selalu selalu mengeksekusi suatu task dengan cara yang selalu sama persis.
  • Dengan VBA, Excel melakukan task jauh lebih cepat daripada dilakukan secara manual.
  • Dengan macro, Excel selalu memiliki performans tanpa kesalahan.
  • Semua task yang diprogramkan dapat dilakukan Excel meskipun user masih awam tentang excel.
  • Dengan VBA banyak hal yang bisa Kita lakukan, yang tidak akan bisa Kita lakukan dalam Excel tanpa VBA.
  • Untuk tugas-tugas Excel yang membutuhkan waktu lama dan membosankan, VBA bisa mengurangi durasi waktu dan kebosanan tersebut.

Di samping beberapa keuntungan di atas, VBA juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  • Kita harus terlebih dahulu mempelajari bagaimana cara menulis program VBA (meskipun tidak terlalu sulit).
  • Orang lain yang menggunakan program VBA yang telah kita buat, harus sudah memiliki program Excel dalam komputernya. Memang lebih nyaman bagi Kita jika tinggal menekan satu tombol yang dapat mentransformasikan aplikasi Excel VBA kita ke dalam suatu program mandiri, namun hal seperti ini tidak mungkin Kita lakukan (dan mungkin tidak akan pernah bisa Kita lakukan).
  • Kadang-kadang program tidak bisa berfungsi. Dengan kata lain, Kita tidak bisa begitu saja dengan mudah berasumsi bahwa program VBA Kita akan berfungsi dengan sempurna dalam semua kondisi. Di sini peran debugging menjadi sangat esensial.
  • VBA merupakan sasaran bergerak. Sebagaimana Kita maklumi bersama, Microsoft senantiasa meng-upgrade Excel. Boleh jadi program Excel VBA yang kita buat tidak bisa beroperasi dengan baik di versi Excel generasi berikutnya. Solusinya,  jika ada versi Excel yang baru, program aplikasi yang Kita buat harus Kita upgrade menyesuaikan Excel tersebut.

F.     Pengembangan Model Desain Instruksional dengan Menggunakan Multimedia Interaktif

Model pengembangan multimedia interaktif untuk kegiatan diklat di dalam penelitian ini mengadopsi dari Parhar (2003: 32). Dengan membandingkan berbagai model desain berdasarkan berbagai teori belajar, Parhar mendeskripsikan beberapa komponen yang sama dari langkah-langkah pengembangan desain instruksional dengan memanfaatkan multimedia interaktif, yaitu:

  1. Perumusan tujuan pembelajaran mata diklat yang dapat dirinci sebagai berikut:
  2. Identifikasi dan analisis tujuan pembelajaran dari mata diklat.
  3. Perencanaan dan solusi desain untuk pencapaian tujuan tersebut.
  4. Implementasi dari solusi tersebut.
  5. Analisis isi multimedia interaktif yang dikembangkan.
  6. Pemilihan jenis multimedia yang sesuai untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
  7. Pembuatan multimedia interaktif.
  8. Evaluasi keefektivan multimedia yang dikembangkan.

Model desain instruksional untuk kegiatan diklat dengan memanfaatkan teknologi bisa didefinisikan sebagai representasi visual dari suatu proses desain instruksional, berupa elemen-elemen utama atau frasa dari proses dan hal-hal yang terkait. Pendekatan sistemnya meliputi perumusan sasaran dan tujuan, analisis sumber, merencanakan kegiatan, dan evaluasi berkelanjutan dan modifikasi dari program. Pendekatan sistem seperti ini sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1950-an dan 1960-an dan berakar di militer dan koorporasi, namun mulai mendominasi dunia pendidikan teknologi dan pembangunan pendidikan sejak tahun 1970-an. (Chen, 2011:81 ).

G.    Kriteria Kelayakan Multimedia Interaktif Tipe Kombinasi Hypermedia dan Hypertext

Ada paling sedikit sebelas faktor kualitas yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan suatu piranti lunak  (Edward Hasted, 2005: 121), yaitu:

  1. Valid,  suatu program aplikasi disebut valid apabila program tersebut dapat berfungsi sesuai dengan tujuan program tersebut dibuat.
  2. Reliabel, yaitu program aplikasi tersebut harus mampu beroperasi dengan akurat.
  3. Efisien, suatu program aplikasi harus mampu bekerja di dalam jaringan dan sistem secara memadai dan tanpa hambatan.
  4. Memiliki integritas, artinya program aplikasi yang dibuat harus memiliki ketahanan tinggi terhadap virus dan hacking.
  5. Keterpakaian, program aplikasi yang baik haruslah bersahabat dan  mudah digunakan oleh para user.
  6. Maintainabilitas, ketika program aplikasi mengalami kerusakan harus bisa diperbaiki secepatnya.
  7. Fleksibilitas, program aplikasi yang baik harus memiliki fleksibilitas di berbagai platform, misal bisa digunakan di berbagai operating system.
  8. Testabilitas,   suatu program aplikasi yang baik haruslah bisa diuji kinerja dan kelayakannya.
  9. Portabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus bisa beroperasi di operating system generasi yang baru.
  10. Reusabilitas,yaitu suatu kondisi yang ideal di mana modularitas kode dan scratch dari suatu program aplikasi dapat diimpor oleh suatu proyek baru.
  11. Interoperabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus harus bisa bekerja berbarengan dengan program aplikasi lain.

III.     PERANCANGAN SISTEM

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian di dalam tulisan ini adalah penelitian pengembangan. Dalam hal ini, Peneliti mengembangkan media diklat interaktif tipe hypertext dengan merekayasa VBA Ecel. Media diklat interaktif ini dipergunakan untuk kegiatan diklat Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah tahun  2012.
B.       Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian pengembangan ini dilaksanakan di LPMP Jawa Tengah dalam kurun waktu mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian sampai dengan penyusunan laporan penelitian dari pertengahan bulan awal Juli 2012. Penyusunan artikel penelitian dilaksanakan akhir Oktober  2012.
C.      Prosedur Pengembangan
1.        Survei dan Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan melakukan kajian dari buku, buku elektronik, jurnal, dan browsing internet. Subjek kajian meliputi metodologi penelitian pengembangan, penilaian kinerja pengawas, multimedia interaktif, kegiatan diklat, teknologi piranti keras komputer, dan VBA Excel. Studi dielaborasikan melalui wawancara dengan pakar penilaian kinerja, pakar informasi teknologi, dan pakar metodologi penelitian.
2.        Analisis dan Perancangan Sistem
Sebagaiman dideskripsikan pada bab sebelumnya, multimedia interaktif yang efektif dapat memfasilitasi peserta diklat mensimulasikan kegiatan yang akan dilakukan di lapangan nanti. Dengan bantuan VBA dan lembar kerja akan membantu para peserta diklat menginput data hasil penilaian kinerja, mengolah data, menghitung skor empat komponen, menghitung dari skor ke nilai komponen, dan menghitung nilai akhir berdasarkan rumus yang dilanjutkan dengan kategorisasi nilai akhir menjadi nilai kinerja. Semua pemrosesan data dan penghitungan dilakukan secara otomatis dan simultan oleh program aplikasi. Otomatisasi semua pekerjaan tersebut akan membuat peserta diklat bisa menyelesaikan tugasnya dalam simulasi secara lebih cepat,  akurat,  akuntabel,  efisien dan  efektif.
D.    Desain SistemGambar berikut menunjukkan blok diagram alur aplikasi pengolahan data untuk simulasi penilaian kinerja pengawas secara umum. Pada program aplikasi ini disediakan tiga pilihan sesuai kebutuhan,  yang hanya bisa digunakan salah satu karena identitas pengawas yang dinilai hanya satu. Misalnya untuk menilai seorang pengawas madya, maka dipilih form pengawas madya. Sedangkan untuk menilai pengawas berikutnya, asesor harus membuka file program aplikasi baru yang masih kosong.
Gambar 01. Blok Diagram Umum Aplikasi Penilaian Kinerja Pengawas

Selanjutnya pada blok diagram berikut digambarkan lebih rinci per jenjang kepangkatan pengawas dengan komponen input data meliputi identitas pengawas, identitas asesor, skor komponen penyusunan program pengawasan, skor komponen pelaksanaan program pengawasan, skor komponen evaluasi pelaksanaan pengawasan, dan skor komponen pembimbingan dan pelatihan profesional guru. Proses pengolahan data menggunakan VBA Excel. Output data meliputi profil pengawas, profil asesor, nilai komponen penyusunan program pengawasan, nilai komponen pelaksanaan program pengawasan, nilai evaluasi pelaksanaan pengawasan, dan nilai pembimbingan dan pelatihan profesional guru serta nilai persentase kinerja yang merupakan penghitungan akhir.

Gambar 02. Blok Diagram Rincian AplikasiPenilaian Kinerja Pengawas Untuk Setiap Jenjang Kepangkatan

1.        System Flow Utama

Gambar system flow utama menunjukkan penggunaan perangkat dimulai menu open file dari file master. Karena file ini menjadi master sehingga diproteksi. Untuk membukanya bisa diplih menu read only. Sebelum file master terbuka, harus dilakukan login berupa menyimpan data tersebut menjadi file baru dengan nama yang disesuaikan dengan nama pengawas yang dinilai. Langkah kedua adalah membuka lembar kerja pertama berupa halaman input data dengan diawali isian identitas pengawas yang akan dinilai dan asesor.

Langkah ini berperan sebagai log masuk karena identitas yang dituliskan akan menjadi kata kunci untuk masuk ke dalam sistem penyimpanan data untuk pengawas yang akan dinilai. Setelah menu isian identitas, bisa dilanjutkan ke menu berikutnya yang merupakan menu utama aplikasi.

Input data berupa klik tombol option button pada skor yang sesuai. Pengolahan data bersifat simultan, artinya begitu option button diklik maka secara seketika proses penghitungan secara otomatis dilakukan oleh program. Jika kita lihat pada halaman hasil, seketika akan muncul skor sementara yang diperoleh berdasarkan input. Namun nila kategorisasinya belum bisa disimpulkan sampai input selesai.

Proses pengolahan data dilakukan dengan berbagai menu function yang ada di Excel. Menu menu yang digunakan sangat kompleks sehingga tidak bisa dideskripsikan dalam tulisan yang terbatas ini. Sebagian dari menu function yang digunakan adalah if, sum, average dan kombinasi diantara menu-menu tersebut.

 
Gambar 03. System Flow Utama

2.        Hierarchy Input Process Output (HIPO)

Dalam rancang bangun media diklat ini, secara hirarkhis program aplikasi dibagi menjadi dua elemen yaitu maintenance aplikasi dan output berupa simulasinya.

Elemen maintenance terdiri lima sub yaitu maintenance identitas pengawas yang dinilai dan asesornya, serta empat komponen tugas pengawasan.  Elemen simulasi terdiri dari enam sub yaitu view log, sub untuk empat komponen dan sub untuk nilai akhir penilaian kinerja.

Gambar 04. HIPO

3.        Flowchart Aplikasi

Flowchart aplikasi terdiri dari dua bagian, yaitu untuk admin dan untuk pengguna. Alur program dimulai dari bagian admin yaitu menu buka file master, menu login berupa pilihan read only, langsung save as menjadi file user, yang selanjutnya oleh admin akan diolah melalui maintenance user menjadi data user yang kemudian mengalir ke bagian pengguna. Aplikasi untuk pengguna dimulai dari file user, isian identitas pengawas dan asesor, dan input skor masing-masing komponen.

Dari input ini data diproses di bagian admin lagi, yaitu pengolahan data skor untuk masing masing komponen menjadi nilai. Skor komponen penyusunan program pengawasan diolah menjadi nilai komponen penyusunan program pengawasan, skor komponen pelasksanaan program pengawasan diolah menjadi nilai komponen pelaksanaan program pengawasan, skor komponen evaluasi pelasksanaan program pengawasan diolah menjadi nilai komponen evaluasi pelaksanaan program pengawasan, serta skor komponen pembimbingan dan pelatihan profesional guru diolah menjadi nilai komponen pembimbingan dan pelatihan profesional guru. Empat nilai komponen ini memiliki bobot yang berbeda sehingga hasil akhirnya dikalikan bobot terlebih dahulu baru dirata-rata. Nilai rata-rata inilah yang menjadi nilai akhir yang disebut dengan Nilai Persentase Kinerja (NPK).

 Gambar 05. Flowchart Aplikasi

4.        Data Flow Diagram

Dalam rancang bangun suatu program aplikasi harus dibuat suatu model untuk menggambarkan pembagian dari sistem ke dalam model yang lebih kecil. Model seperti ini disebut Data Flow Diagram (DFD) yang kemudian dirinci ke dalam level-level tertentu untuk menjelaskan rinciannya.

 a.        Context Diagram

Gambar 06. Context Diagram

Media Diklat Simulasi Penilaian Kinerja Pengawas

Gambar di atas disebut Context Diagram, yaitu diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Context Diagram akan memberikan gambaran tentang keseluruhan sistem.

b.        DFD Level 0

Desain dalam suatu penelitian pengembangan digambarkan lebih rinci di dalam Data Flow Diagram Level 0 yang merupakan rincian dari contex diagram. Dari DFD Level 0 ini idealnya dirinci lagi ke dalam DFD Level 1, DFD Level 2 dan seterusnya bergantung pada kompleksitas sistem program aplikasi yang akan dikembangkan. Namun karena keterbatasan media publikasi, dalam laporan penelitian pengembangan ini hanya dideskripsikan DFD Level 0 saja.  DVD Level 0 ini menggambarkan rincian keseluruhan dari context diagram. DFD Level 0 ini terdiri atas empat bagian utama, yaitu bagian admin, bagian maintenance, bagian simulasi, dan bagian user. DFD level 0 dari program aplikasi media diklat interaktif simulasi penilaian pengawas sekolah dipaparkan dalam gambar 07 berikut.

Gambar 07 DFD Level 0

E.  Evaluasi

1.    Subjek Uji Coba

Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk program aplikasi sehingga harus melalui uji coba terlebih dahulu. Proses pengujian produk ini memiliki tujuan untuk mengumpulkan data yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Dalam suatu kegiatan pengembangan, pengembang mungkin hanya melewati dan berhenti pada tahap uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok kecil. Pengujian bisa juga sampai ke uji lapangan dengan skala yang lebih luas. Hal ini sangat tergantung pada urgensi dari data yang dibutuhkan melalui uji coba itu (UM, 2003; Borg, 1983). Mengingat skala penelitian ini hanya untuk kegiatan simulasi dalam diklat di LPMP Jawa Tengah, uji coba yang dilakukan pada tahap uji perorangan dan kelompok kecil.

a.    Uji Coba Ahli Isi 

Uji coba ahli dilakukan oleh pakar penilaian kinerja pengawas yaitu National Core Team (NCI) dari kegiatan diklat penilaian kinerja pengawas sekolah. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap substansi materi penilaian kinerja pengawas sekolah yang diproses dalam program aplikasi.

b.   Uji Coba Kelompok Kecil

Subjek uji coba perorangan terdiri dari 8 orang calon pengguna, yaitu satu orang fasilitator mata diklat penilaian kinerja pengawas sekolah dan 7 orang peserta diklat calon asesor penilaian kinerja pengawas. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi keefektifan program aplikasi yang dikembangkan baik sebagai media diklat maupun sebagai program aplikasi penilaian kinerja pengawas yang bisa digunakan oleh end user di lapangan.

2.      Instrumen Pengujian

Evaluasi dalam penelitian pengembangan baik untuk uji coba perorangan maupun uji coba kelompok kecil menggunakan instrumen angket dengan menggunakan Skala Likert dengan 4 pilihan. Angket terlebih dahulu divalidasi menggunakan instrumen telaah kualitatif soal yang telah digunakan secara luas dalam kegiatan penilaian pendidikan oleh Depdiknas (Direktorat Pembinaan SMA, 2007) setelah terlebih dahulu dimodifikasi terutama dalam penggunaan istilah. Telaah validitas meliputi validitas muka, validitas konstruk, dan validitas isi. Telaah instrumen dimintakan pertimbangan pakar penelitian.

3.    Teknik Analisis Hasil Pengujian

Analisis data dari angket yang telah diisi ditujukan untuk mengetahui respon pengguna akhir terhadap program aplikasi yang telah dikembangkan. Skor hasil angket uji coba perorangan merupakan hasil akhir karena tidak memerlukan proses penghitungan lanjutan. Sedangkan untuk skor hasil pengisian angket uji coba kelompok kecil dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis item summated scales  dari Skala Likert (Kothari,2004:83 ).

Analisis item summated scales sesungguhnya sederhana. Setiap angket menghasilkan skor. Dari beberapa angket berarti ada beberapa skor yang kemudian ditabulasikan. Analisis dilanjutkan dengan menghitung skor akhir dengan cara menjumlahkan angka untuk setiap jawaban dari hasil angket. Dari jumlah itu, dapat dibedakan taraf atau intensitas sikap peserta diklat terhadap aplikasi yang dipergunakannya. Adapun analisis tersebut untuk setiap butir pertanyaan menggunakan rumus di bawah ini.

Dari skor setiap butir pertanyaan, kemudian dikonversi ke dalam kategori sebagai berikut  (Suharsimi, 2010: 192;  Kothari, 2004: 85 ):

76%  – 100% = sangat baik/menarik/sesuai/efektif

51%  – 75%   = baik/menarik/sesuai/efektif

26%  – 50%   = kurang baik/menarik/sesuai/efektif

0%    – 25%   = tidak baik/menarik/sesuai/efektif

IV.     IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

A.    Implementasi

1.      Perangkat Lunak

A. OS Windows 7 Ultimate 32 bit

B. Visual Basic Application Excel MS Office 2007

2.      Perangkat Keras

A. Netbook

B. Prosessor: Intel Atom CPU N45 0 @ 1,66 GHz

C. Memory: 1024 MB RAM

D. Display: Intel Media Graphic Accelerator 3150 memori 250 MB

E. Monitor: Generic PnP Monitor 32 bit

3.      Instalasi

Untuk instalasi program aplikasi ini langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Copy program aplikasi ke hardisk
  2. Buka file masternya, maka akan muncul permintaan konfirmasi password. Pilih menu read only.
  3. Setelah program aplikasi terbuka, save as dan beri nama dengan nama user yaitu pengawas sekolah yang dinilai kinerjanya.  Langkah ini adalah langkah terakhir dalam instalasi.

4. Implementasi Input dan Output

a. Form Utama Aplikasi

Form preleminer  program aplikasi adalah lembar kerja yang berisi identitas pengawas yang akan dinilai penilaian kinerjanya dan identitas asesor yang akan melakukan penilaian kinerja pengawas tersebut.

 

Gambar 08. Lembar Identitas

b.        Input Data Instrumen PKPS

Input data Instrumen PKPS untuk setiap jenjang kepangkatan pengawas terdiri dari satu lembar kerja dimulai dari input data untuk Pengawas Muda yang merupakan lembar kerja nomor 3,  untuk Pengawas Madya di lembar kerja nomor 4, dan untuk Pengawas Utama di lembar kerja nomor 5. Pada subbab ini hanya disajikan lembar kerja nomor 3 saja sebagai contoh.

 

Gambar 09. Input komponen penyusunan program pengawasan

 c.         Output Data Laporan Hasil PKPS

Output data dimulai pada lembar kerja nomor 6 yaitu Laporan Hasil PK Pengawas Muda yang merupakan hasil penghitungan dari input data pada lembar kerja nomor 3. Pada lembar kerja ini disertakan penilaian kinerja kualitatif deskriptif. Lembar kerja selanjutnya yaitu nomor 7 dan nomor 8 merupakan Laporan Hasil PK Pengawas Madya dan Pengawas Utama dengan struktur yang sama.

Gambar 10. Lembar Kerja nomor 6 Laporan Hasil PK Pengawas Muda

d.        Lembar Kerja Suplemen

Program Aplikasi ini disertai dengan beberapa lembar kerja pelengkap berisikan informasi-informasi untuk mengelaborasikan pemahaman tentang PKPS dan instrumennya. Lembar kerja nomor 1 Cover Instrumen, no. 10 Rubrik PKPS, no.11 Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) untuk Pengawas, no. 12 Landasan Hukum PKPS, no. 13 Tahapan Pelaksanaan PKPS, no. 14 Pengendalian Pelaksanaan PKPS, no. 15 Kisi-Kisi Instrumen PKPS, dan no. 16. Pemetaan Tugas Pokok dan Dimensi Kompetensi Pengawas.

Pada Subbab ini Peneliti menyajikan salah satu contoh Lembar Kerja Suplemen, yaitu nomor 15. Pada lembar kerja ini dideskripsikan tugas pokok pengawas, disertai penjabarannya ke dalam beberapa indikator dan dirinci lebih lanjut ke dalam butir indikator penilaian kinerja.

Gambar 11. Lembar Kerja Informasi Kisi-Kisi Instrumen PKPS

 B.     Hasil Evaluasi

1.        Hasil Uji Coba Ahli Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah

Uji coba ahli dilaksanakan dengan subjek seorang National Core Team (NCT) penilaian Kinerja Pengawas Sekolah.

Tabel 01. Uji Coba Ahli Isi
Dari uji coba ahli diperoleh gambaran bahwa semua komponen program aplikasi termasuk kategori sangat baik sehingga tidak perlu perbaikan. Sedangkan dari pertanyaan terbuka tidak ada masukan yang membutuhkan perubahan signifikan.

2.        Hasil Uji Coba Perorangan

Uji coba perorangan dilaksanakan dengan subjek 4 orang fasilitator dan 6 peserta diklat.

Tabel 02. Uji Coba Perorangan

Berdasarkan tabel hasil uji coba perorangan menunjukkan bahwa semua komponen program sudah berfungsi dengan sangat baik, yaitu memperoleh skor di atas 75%.  Dari instrumen terbuka diperoleh saran untuk worksheet yang berisi angket dihapus saja karena merupakan bagian instrumen lama yang sudah tidak dipakai lagi. Umpan balik ini ditindaklanjuti peneliti dengan menghapus worksheet tersebut.

  1. 3.        Diseminasi Program

Setelah program aplikasi berfungsi dengan baik sesuai tujuan pengembangan-nya, maka perlu didiseminasikan kepada semua pemangku kepentingan yang membutuhkan. Diseminasi dilakukan kepada para peserta ketika diklat Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah berlangsung dan diunggah di web sehingga bisa diunduh semua orang yang membutuhkan. Hasil berupa laporan penelitian diuanggah di www.lpmpjateng.co.id sedangkan program aplikasinya diunggah ke www.ziddu.com.

Adapun alamat webnya sebagai berikut:

http://www.ziddu.com/download/20645741/MASTERPROGAPLLPKPSBYSWWIDODO.xlsx.html

V.    PENUTUP

A.  Simpulan

Dari hasil uji coba media diklat interaktif program aplikasi simulasi penilaian kinerja pengawas sekolah yang telah dikembangkan dalam penelitian pengembangan ini, disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah dikembangkan dapat berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator diklat dalam mendemonstrasikan penilaian kinerja pengawas sekolah.
  2. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu peserta diklat mensimulasikan proses penilaian kinerja pengawas sekolah.
  3. Program aplikasi yang telah dirancang bangun dapat digunakan end user untuk melaksanakan penilaian kinerja pengawas sekolah madya secara aktual di lapangan

B. Saran

Dari hasil penelitian pengembangan media diklat interaktif  program aplikasi simulasi penilaian kinerja pengawas sekolah madya ini disarankan untuk penelitian lanjutan sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah dikembangkan dapat diuji lebih lanjut pengaruhnya terhadap hasil belajar peserta diklat melalui penelitian eksperimen
  2. Program aplikasi yang telah dikembangkan dapat dikembangkan lagi menjadi program aplikasi online.
  3. Program aplikasi yang telah dikembangkan dapat diintegrasikan di dalam SIM Pendidikan di tiap dinas pendidikan kabupaten/kota sehingga dapat tersusun data base kinerja pengawas sekolah di kabupaten/kota tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

 

Borg, Walter H. Dan Meredith Damien Gal. 1983. Educational Research: An Itntroduction. New York: Longman Inc.

Chen, Irene.2011. Instructional Design Methodologies. Dalam Kristin Klinger. Instructional Design:Concepts, Methodologies, Tools, and Applications. Hershey, New York: Information Science Reference.  .

DeMarco, John. 2008. Pro Excel 2007 VBA: Learn to build high-performance applications in Excel 2007 using VBA. Berkeley:Apress.

Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. 2008.  Panduan Analisis Butir Soal. (CD ROM: Materi Pelatihan Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional).

Fahy, Patrick J. 2003. Planning for Multimedia Learning. Dalam Sanjaya Mishra dan Ramesh C. Sharma. Interactive Multimedia in Education and Training (hal. 1-24). London: Idea Group Publishing.

Green, John, dkk. 2007. Excel 2007 VBA: Programmer’s Reference. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Gyurky, Szabolcs Michael de. 2006. Work Out Change: Systemic Innovation in Vocational Education and Training. OECD: Centre for Educational Research and Innovation.

Harvey, Greg. 2010. Excel 2010 All in One for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Hasted, Edward.2005. Software That Sells: A Practical Guide to Developing and Marketing Your Software Project.Indianapolis:Wiley Publishing Inc.

Hill, Peter.L. 2011. Practical Software Project Estimation: A Toolkit for Estimating Software Development Effort & Duration. New York: Mc. Graw Hill.

Jelen, Bill and Dwayne K. Dowell. 2007. Excel forAuditors. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2005. Learn Excel from Mr, Excel. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2008. 377 Excel Mysteries Solved. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2009. Excel Gurus Gone Wild. Uniontown: Holy Macro! Books.

Kothari,C.R. 2004. Research Methodology:Methods and Techniques. New Delhi: New Age International (P) Ltd., Publishers.

Michael Spector. 2008.  Handbook of Research on Educational Communications and Technology (Third Edition). New York: Lawrence Erlbaum Associates.

Parhar, Madhu. 2003. Instructional Design for Multimedia. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 27-38). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No. 9 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Widyaiswara. (Online: http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/pedoman.html. Direktorat Pembinaan Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara. Diakses tanggal 02022012).

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah Dan Angka Kreditnya (Online: www.menpan.go.id/ diakses tanggal 28 Oktober 2012.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (CD ROM Materi Diklat KTSP SMA 2008 Direktorat Pembinaan SMA: KTSP SMA 2008).

Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (CD ROM Materi Diklat KTSP SMA 2008 Direktorat Pembinaan SMA: KTSP SMA 2008).

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik. 2012. Pedoman Penilaian Kinerja Pengawas Sekolah. (CD ROM Materi Diklat Penilaian Kinerj Guru dengan Tugas Tambahan. Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan,2012 ).

Reddi, Usha V.2003. Educational Media: A Handbook for Teacher-Developers. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 3-13). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories, An Educational Perspective. Boston: Pearson Education Inc.

Suharsimi Arikunto.2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas. Yogyakarta:Aditya Media.

Taylor, Edward W. 2008. Transformative Learning Theory. Dalam Merriam, Sharan B (Eds). Third Update on Adult Learning Theory (hal. 5-13). San Francisco: Wiley Periodicals.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Verschuuren, Gerard,M.2006. From VBA to PSTO: Is Excel’s New Engine for You?. United States: Holy Macro! Books.

Walkenbach, John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Walkenbach, John. 2010. Excel 2010 Power Programming with VBA. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach, John. 2010. Microsoft Excel 2010 Formulas. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach,John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Wang, Victor C.X. 2010. Effective Teaching with Technology in Adult Education. Dalam Wang, Victor C.X. Integrating Adult Learning and Technologies for Effective Educaton: Strategic Approach (hal. 48-61). Hershey New York: Information Science Reference.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s