KTI WI Analisis Dampak Diklat Penjasorkes

DAMPAK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GURU  MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN TERHADAP PENINGATAN KEMAMPUAN MENYUSUN SILABUS DAN RPP DI  LPMP JAWA TENGAH TAHUN 2012

Oleh

H a r u n

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

ABSTRAK

          Sesuai dengan Permenpan RB no. 16 tahun Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya bahwa tugas utama guru dalam kegiatan pembelajaran adalah menyusun rencana pembelajaran,melaksanakan pembelajaran yang bermutu,menilai dan mengevaluasi pembelajaran,menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik.Agar guru memiliki kemampuan tersebut dii atas salah satu upaya adalah dengan menyelenggarakan Diklat.Agar dapat mengetahui seberapa jauh tingkat efektivitas diklat perlu dilakukan penelitian khususnya seberapa jauh dklat yang dilakukan oleh LPMP Jawa Tengah tahun 2012 mampu meningkatkan tingkat pengetahuan dan keterampilan menyusun silabus dan RPP(rencana pelaksanaan pembelajaran)

Subjek penelitian ini adalah peserta diklat peningkatan kompetensi guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan tahun 2012 yang terdiri dari guru SD,SMP,dan SMA.Tidak seluruhnya semua peserta diklat digunakan sebagai subjek penelitian,tetap menggunakan sampling,masing-masing di ambil satu kelas sebagai sampel penelitan.

Setiap peserta diklat dari masing-masing satuan pendidikan secara acak/random dipilih satu kelas yang akhirnya digunakan sebagai subjek penelitian.Data yang diperoleh ada dua macam yaitu kemampuan menyusun silabus dan RPP bersifat kualitatif,dan hasil pre tes serta pos tes bersifat kuantitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan guru (SD,SMP,SMA)dalam menyusun silabus dan RP,hal ini dapat diketahui antara silabus dan RPP yang dibuat sebelum dklat dibanding dengan silabus dan RPP yang dibuat setelah diklat.Kompetensi pengetahuan (kognitif)tentang Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan juga meningkat yaitu:untuk rerata guru SD dari nilai 5,28 naik menjadi 5,97,guru SMP dari nilai 44,58 naik menjadi 49,16,dan guru SMA dari nilai 5,15 naik menjadi 5,77.

 

Kata kunci: Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan,Silabus,RPP.


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Pada Peraturan Menteri no.22 tahun 2006 tentang standar isi pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dikatakan bahwa “Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral,aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional”.

Oleh karena itu pendidikan jasmani harus dimaknai untuk membekali pengalaman belajar siswa yang diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan  perkembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat,bugar sepanjang hayat.

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus dapat menjadi media yang mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportivitas, spiritual, sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Seiring dengan pergantian kurikulum serta peraturan perundangan di dunia pendidikan maka guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan(penjasorkes) di  tingkat satuan pendidikan  SD,SMP,SMA/SMK perlu senantiasa meng up date/memperbarui sikap pengetahuan dan keterampilannya. Pada perubahan peraturan/perubahan perundangan terjadi juga perubahan istilah dan makna penjasorkes yang digunakan. Kekeliruan dalam mmahami istilah/makna tentang pendidikan jasmani dapat  berakibat kurang tepat pada kegiatan pembelajaran .

Berbagai model pembelajaran pun banyak mengalami kemajuan/perkembangan.Tidak menutup kemungkinan pada saat guru masih kuliah belum memperoleh materi  model/metode/teknik pembelajaran yang sekarang banyak diterapkan.

Pada permendiknas no.41 tahun 2007 tentang standar proses di katakan ”Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun  RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.

Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Ada beberapa pendapat yang kurang tepat tentang penjasorkes yang masih kita dengar, antara lain adalah :a. Mapel penjasorkes tidak masuk pada mapel yang di UN  (ujian nacional)kan, b. Dana dari pemerintah terbatas, c. Mapel penjasorkes adalah mapel yang kurang penting bagi masa depan anak, d. Mapel penjasorkes hanya berkutat pada urusan jasmani saja, e. Sumbangan penjasorkes terhadap pencapaian tujuan pendidikan secara menyeluruh kurang nyata.

Perlu dipahami bahwa Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis  yang seimbang.(permendiknas no.22 tahun 2006)

Hasil pembelajaran penjasorkes yang optimal dapat tercapai jika didukung oleh sikap progesional  dan kompetensi guru yang baik.Oleh karenanya tidak ada kata lain kecuali semua pihak yang terkait pada pendidikan secara sitematis dan terus menerus meningkatkan profesional dan kompetensi guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah.

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah sebagai salah satu UPT pusat sudah semestinya ikut bertanggung jawab terhadap peningkatan kompetensi guru Penjasorkes di Jawa Tengah.Melalui DIPA tahun 2012 LPMP jawa  Tengah melaksanakan Diklat bagi guru penjasorkes baik guru SD,SMP.dan SMA .Sebagai rangkaian kegiatan diklat tentu melalui tahapan:a tahap persiapan,pelaksanaan,dan evalusia program diklat.Tahap persiapan meliputi antara lain a)penyusunan struktur program,silabus,SAP pretes,pemanggilan calon peserta,pemilihan waktu d tempat kegiatan dan penyiapan narasumber.

Dalam hal pelaksanaan diklat,dan evalusai program diklat diperlukan upaya agar pelaksanaan diklat dapat terlaksana denga efektif dan efisien.Bagaimana upaya yang dilakukan?salah satu cara adalah mengungkap berdasarkan fakta yang ada tentang pelaksanaan dan hasil diklat itu sendiri sejauhmana diklat itu berdampak positif terhadap peningkatan kompensi peserta diklat

B. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah

Dari uaian pada latar belakang  masalah tersebut dapat dikemukakan rumusan  masalah:

  1. Bagaimana proses proses penyusunan Silabus dan RPP pada diklat peningkatan kompetensi guru pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang dilakukan oleh LPMP (Lembaga  Penjaminan Mutgu Pendidikan) pada  tahun 2012?
  2. Apakah Diklat (Pendidikan dan Latihan ) yang dilakukan oleh LPMP (Lembaga  Penjaminan Mutu Pendidikan)Jawa  Tengah tahun 2012 dapat meningkatkan kompetensi bagi guru pada mata pelajaran  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.Oleh karenanya LPMPperlu :
    1. mengadakan pendidikan dan latihan bagi guru  mapel   pejasorkes  secara efektif dan efisien,dengan cara:1)menyusun silabus,struktur program sesuai kebutuhan peserta,2) menyusun bahan ajar yang tepat,3) memilih narasumber yang kompeten dibidangnya,4) menggunakan waktu yang memadai.
      1.  perlu mengetahui sejauhmana diklat yang dilakukan memiliki dampak pada   peningakatan kompetensi bagi mata pelajaran penjasorkes tahun 2012,

C. Tujuan Penelitian

1.  Untuk mengetahui sejauhmana tingkat  kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP dalam kegiatan diklat yang dilakukan oleh LPMP Jawa Tengah tahun 2012

  1.  2.  Untuk mengetahui Dampak diklat dalam peningkatan kompetensi profesional yang dilakukan oleh LPMP JawaTengah tahun  2012 terhadap peningkatan kompetensi guru

D. Manfaat penelitian

1. Lembaga penjaminan mutu pendidikan (LPMP) Jawa Tengah dapat melakukan refleksi/evaluasi tentang pelaksanaan diklat yangdilakukan dalam rangka perbaikan penyelenggaraan diklat yang akan datang

2. Peserta diklat memiliki keterampilan mengelola pembelajaran

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.   Pendidikan Jasmani
    1. Hakikat Pendidikan Jasmani

Seiring dengan perubahan kurikulum, perubahan undang-undang serta peraturan lain serta kebijakan pemerintah dalam pendidikan kita, maka pemahaman terhadap pendidikan jasmani juga mengalami perubahan. Pemahaman tentang pendidikan jasmani sampai saat ini sangat beragam sesuai dengan latar belakang dan tingkat pengtahuan seseorang. Sebagai  gambaran dapat kita cermati pengertian maupun istilah yang pernah digunakan dari beberapa periode seperti di bawah ini:

Pada awal kemerdekaan tahun 1945 – 1948 pemerintah mempunyai perhatian khusus terhadap olahraga. Hal ini ditunjukkan dengan ketetapan pemerintah tentang pembentukan Inspeksi Olahraga. Walaupun namanya Inspeksi Olahraga tetapi tugas pokoknya mengurus pendidikan jasmani di sekolah. Pada saat itu istilah yang digunakan adalah ”Gerak Badan ”. Pada tahun 1950– 1961 istilah yang digunakan adalah Pendidikan Jasmani dan pada tahun 1962 – 1967 pendidikan jasmani di sekolah menggunakan istilah Olahraga  karena pada tahun 1962 kita memiliki Departemen Olahraga. Pada saat itu dunia olahraga benar – benar mendapat perhatian yang sangat baik dari pemerintah.

Pada tahun 1967 – tahun 1983 istilah yang digunakan adalah Pendidikan Olahraga dan Kesehatan  dan pada saat menggunakan kurikulum 1984 istilah yang digunakan adalah Pendidikan  Jasmani dan Kesehatan. Di dalam UU no.2 tahun 1989 tentang Sisdiknas salah satu mata pelajaran yang harus ada pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah adalah pendidikan jasmani dan kesehatan  sampai dengan kurikulum 1994 istilah yang digunakan tetap yaitu Pendidikan Jasmani dan Kesehatan(penjaskes).

Pada GBHN tahun 1999 kita tidak temukan istilah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang kita temukan adalah istilah ” Pendidikan Olahraga ” yaitu pada kalimat ”menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olahraga di sekolah dan masyarakat”.

Berdasarkan UU no.20 tentang Sisdiknas pada pasal 37 ayat 1 point h dikatakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat Pendidikan Jasmani dan Olahraga, tetapi pada Peraturan Menteri no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi pada struktur kurikulum istilah yang digunakan adalah ” Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.” Beberapa pendapat tentang pendidikan jasmani yang perlu penulis sampaikan yaitu:

  1. Organisasi UNESCO yang tertera dalam ICPE ( Internasional Charter of Physical Education (1974) mengemukakan : Pendidikan Jasmani adalah suatu proses prndidikan seseorang sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak
  2. Ateng (1993) mengemukakan : Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual, dan emosional.
  3. Menurut MENPORA, Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang  sebagai perorangan maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematis melalui berbagai kegiatan jasmani dalasm rangka memperoleh peningkatan kemampuan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak (Menpora:1984).
  4. Bucher (1983) mengatakan : Pendidikan Jasmani terdiri dari dua kata yaitu jasmani (physical) dan pendidikan (education). Kata jasmani memberi pengertian bermacam-macam kegiatan meliputi : kekuatan jasmani, pengembangan jasmani, kecakapan jasmani, kesehatan jasmani dan penampilan jasmani. Sedangkan tambahan kata pendidikan yang kemudian menjadi (physcal education ) merupakan suatu pengertian yang tidak dapat dipisahkan antara ”pendidikan dan ”jasmani”. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memberikan perhatian pada aktivitas pengembangan jasmani manusia. Walaupun pengembangan utamanya adalah jasmani, namun tetap berintensi pendidikan. Pengembangan jasmani bukan merupakan tujuan tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
  5. Rijsdorp (1975) dari Belanda menggunakan istilah dari kata Gymnazium yaitu latihan, berlatih, dan pasivum berarti melatih diri, Gymnologi adalah ilmu yang menelaah aksi motorik dalam ruang lingkup pendidikan dan pembentukan. Pendidikan  jasmani bukanlah pendidikan dari pada badan, tetapi suatu pergaulan paedagogis dalam dunia gerak dan pengalaman jasmani. Gerak manusia merupakan perubahan dalam hubungan manusia dengan dunia sekitar. Dalam ruang lingkup pendidikan aksi motorik disempurnakan dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian menuju kearah kedewasaan. Kedewasaan manusia berarti secara berdikari mampu nmenunaikan tugas hidupnya.
  6. Baley dan Field (1976) memberikan pengertian pendidikan jasmani  adalah suatu proses pendidikan melalui pemilihan aktivitas fisik yang akan menghasilkan adaptasi pada organik,syaraf otot, intelektual, sosial, kultural, emosional, dan estetika.
  7. Luthan (1995:1) menyatakan bahwa” pendidikan jasmani merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, melalui aktivitas jasmani yang disusun secara sistematis untuk menuju manusia seutuhnya.”
  8. Annarino,Cowel dan Hazelton (1960:11)yang dikutip Sukintaka berpendapat bahwa” pendidikan jasmani merupakan pendidikan lewat aktivitas jasmani untuk mencapai tujuan pendidikan dalam ranah fisik, psykomotorik, kognitif dan afektif.”
  9. Pada kurikulum 2004

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematis bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuro muskuler, perseptual, kognitif, dan emosional dalam kerangka sistem pendidikan nasional.

Dari berbagai pendapat tentang pendidikan jasmani seperti tersebut di atas walaupun menggunakan redaksi/kalimat yang berbeda namun secara garis besar memiliki penekanan yang sama yaitu pendidikan jasmani adalah bagian dari strategi pendidikan yang menggunakan aktiviatas fisik yang dirancang secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada aspek fisik saja tetap mencakup aspek jasmani,rohani serta sosial.

Hasil tersebut di atas itulah yang membedakan dengan dengan mata pelajaran lainnya. Pendidikan jasmani memiliki cakupan tujuan yang lengkap, dan hal ini pula yang menjadikan pendidikan jasmani memiliki karakteristik tersendiri.

  1. 2.      Pandangan Tradisional Tentang Pendidikan Jasmani

Pandangan tradisional menganggap bahwa manusia terdiri dari dua komponen utama yang dapat  dipisah-pisahkan yaitu jasmani dan rohani (dikotomi).

Pandangan ini menganggap bahwa pendidikan jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang, atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Dengan kata lain pendidikan jasmani sebagai pelengkap saja.

Di Amerika Serikat, pandangan dikotomi ini muncul pada akhir abad ke-19 atau antara tahun 1885-1900 pada saat itu pendidikan jasmani dipengaruhi oleh  sistem Eropa, seperti sistem Jerman atau sistem Swedia, yang lebih menekankan perkembangan aspek fisik (fitness), kehalusan gerak, dan karakter siswa, dengan gimnastik sebagai medianya. Pada saat itu pendidikan jasmani lebih berperan sebagai medicine (obat) daripada sebagai pendidikan. Oleh karena itu para pengajar pendidikan jasmani lebih banyak dibekali latar belakang akademis kedokteran dasar (medicine).

Pandangan pendidikan jasmani yang berdasarkan pandangan dikotomi  manusia ini secara empirik menimbulkan salah kaprah dalam merumuskan tujuan, program pelaksanaan, dan penilaian. Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan jasmani ini cenderung mengarah kepada upaya  memperkuat badan, memperhebat keterampilan fisik,atau kemampuan jasmaniah saja. Selain itu sering terjadi pelaksanaan pendidikan jasmani justru mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri, hingga akhirnya mendorong timbulnya pandangan modern.

  1. 3.      Pandangan Modern Tentang Pendidikan Jasmani

Pandangan modern atau sering disebut dengan pandangan holistik menganggap bahwa manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang terpisah-pisah.Manusia adalah kesatuan dari berbagai bagian yang terpadu. Oleh karena itu pendidikan jasmani tidak hanya berorientasi pada jasmani saja atau hanya kepentingan satu komponen saja (jasmani atau rohani saja).

Di Amerika Serikat pandangan holistik ini awalnya dipelopori oleh Wood dan selanjutnya oleh Hetherington pada tahun 1910.Pada saat itu pendidikan jasmani dipengaruhi oleh ”progresive education”Doktrin utama progresive education ini menyatakan bahwa semua pendidikan harus memberi konribusi terhadap perkembangan anak secara menyeluruh, dan pendidikan jasmani mempunyai peran yang sangat penting terhadap perkembangan tersebut. Pada periode ini pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui aktivitas jasmani (education through physical).

Pandangan holistik ini, pada awalnya kurang banyak memasukkan aktivitas sport karena pengaruh pandangan sebelumnya, yaitu akhir abad ke-19 yang menganggap sport tidak sesuai di sekolah-sekolah. Namun tidak dapat dipungkiri sport terus tumbuh dan berkembang menjadi aktivitas fisik yang merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Sport menjadi populer, siswa menyenanginya, dan ingin mendapat kesempatan untuk berpartisipasi di sekolah-sekolah hingga para pendidik seolah-olah ditekan untuk menerima sport dalam kurikulum di sekolah-sekolah karena mengandung nilai-nilai pendidikan,hingga akhirnya pendidikan jasmani sudah berubah,yang tadinya menekankan pada gimnastik dan fitness menjadi lebih merata pada seluruh aktivitas fisik termasuk olahraga, bermain, rekreasi atau aktivitas lain dalam lingkup aktivitas fisik.

 

Di Indonesia salah satu contoh definisi pendidikan jasmani yang didasarkan atas pandangan holistik ini dikemukakan oleh Jawatan Pendidikan Jasmani (sekarang sudah dibubarkan) yang dirumuskan tahun 1960,sebagai berikut:Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang mengaktualsasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindak dan karya yang diberi bentuk, isi dan arah menuju kebulatan pribadi sesuai dengan cita-cita kemanusiaan”

Definisi pendidikan jasmani dari pandangan holistik ini cukup banyak mendapat dukungan dari para ahli pendidikan jasmani lainnya. Misalnya Siedentop (1990) mengemukakan” Pendidikan Jasmani modern lebih menekankan pada pendidikan  melalui aktivitas jasmani didasarkan pada anggapan bahwa jiwa dan raga merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Pandangan ini memandang kehidupan sebagai totalitas.

Wali dan Murray (1994 ) mengemukakan  serupa, dari sudut pandang yang lebih spesifik ” Masa anak-anak adalah masa yang sangat komplek, dimana pikiran, perasaan dan tindakannya selalu berubah-ubah. Oleh karena sifat anak-anak yang selalu dinamis pada saat mereka tumbuh dan berkembang, maka perubahan satu elemen seringkali mempengaruhi perubahan pada elemen lainnya. Oleh karena itulah,anak secara keseluruhan yang harus kita didik, tidak hanya mendidik jasmani atau tubuhnya saja”.

Pada Peraturan Menteri no.22 tahun 2006 tentang standar isi pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dikatakan bahwa “Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani,keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral,aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional”.

Oleh karena itu pendidikan jasmani harus dimaknai untuk membekali pengalaman belajar siswa yang diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan  perkembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat,bugar sepanjang hayat.

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan harus dapat menjadi media yang mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap mental, emosional, sportivitas, spiritual, sosial) serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Mengacu pada beberapa pendapat para ahli dapat disampaikan bahwa : Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian

integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis,keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani,olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.

  1. 4.      Fungsi dan Peran Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan secara keseluruhan. Lewat program pendidikan jasmani dapat diupayakan untuk mengembangkan kepribadian individu. Tanpa Pendidikan jasmani proses pendidikan di sekolah akan     pincang. Sumbangan nyata pendidikan jasmani adalah untuk mengembankan keterampilan (psikomotorik). Karena itu posisi pendidikan jasmani  menjai unik, sebab berpeluang lebih banyak daripada mata pelajaran lainnya untuk mengembangkan keterampilan. Hal ini sekaligus mengungkapkan kelebihan pendidikan jasmani dari mata pelajaran lainnya.Jika pelajaran lainnya lebih mementingkan perkembangan intelektual,maka melalui pendidikan jasmani terbina sekaligus aspek penalaran, sikap dan keterampilan.

Secara garis besar ada tiga hal penting yang bisa disumbangkan oleh mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolah yaitu :

  1. Meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan siswa.
  2. Meningkatkan terkuasainya keterampilan fisik yang kaya serta bagaimana menerapkannya dalam praktik.
  3. Meningkatkan kemampuan berfikir dan kepekaan rasa.

Adakah pelajaran yang lain matematika, biologi, bahasa dll) yang bisa menyumbang kemampuan-kemampuan seperti tersebut di atas? Suatu hal yang menjadi pertanyaan oleh orang di luar pendidikan jasmani adalah : mampukah aspek tersebut dapat dicapai melalui pendidikan jasmani ?. Bagi orang-orang yang berkecimpung di pendidikan jasmani tentu akan mengatakan bisa atau ”ya”,berapapun besar kontribusinya tentu tergantung pada kualitas pembelajarannya.

Tiga aspek tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Kebugaran dan Kesehatan

Kebugaran dan Kesehatan akan dicapai melalui program pendidikan jasmani yang terencana teratur, terukur dan berkesinambungan  akan berpengaruh pada perubahan kemampuan fungsi organ-organ tubuh seperti jantung,dan paru-paru,sistem peredaran darah, pernafasan akan bertambah baik dan efisien.

Semakin meningkatnya sistem kerja tubuh akibat latihan,kemampuan tubuh akan meningkat dalam hal daya tahan, kekuatan dan kelenturannya. Demikian juga dengan beberapa kemampuan motorik seperti keecepatan,kelincahan dan koordinasi.

 

Pendidikan jasmani juga dapat membentuk gaya hidup sehat.

Dengan kesadaran anak akan mampu menentukan sikap bahwa kegiatan fisik merupakan kebutuhan pokok dalam hidupnya,dan tetap akan dilakukannya sepanjang hayat.Sikap itulah yang kemudian akan membawa anak pada kualitas hidup sehat, sejahtera lahir dan batin,yang disebut istilah Wellness

  1. Keterampilan Fisik dan penerapannya dalam praktik

Keterlibatan anak dalam aktivitas fisik (permainan dan Olahraga ) merangsang perkembangan gerakan yang efisien yang berguna untuk menguasai berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut dapat berbentuk keterampilan dasar misalnya berlari dan melempar serta keterampilan khusus seperi senam atau renang,yang pada akhirnya bisa mengarah kepada keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan jasmani yang baik harus mampu menngkatkan pengetahuan anak tentang prinsip-prinsip gerak. Pengetahuan tersebut akan menjadikan anak mampu memahami bagaimana suatu keterampilan dipelajari hingga tingkat yang lebih tinggi.

Dengan demikian seluruh gerakannya bisa lebih bermakna,sebagi contoh,anak harus mengerti mengapa kaki harus dibuka dan bahu direndahkan ketika anak sedang berusaha menjaga keseimbangan. Mereka juga diharapkan mengerti mengapa harus dilakukan pemanasan sebelum berolahraga,serta apa akibat terhadap derajat kebugaran jasmani bila seorang tidak teratur dalam berlatih.

  1. Kemampuan Berfikir dan kepekaan rasa

Memang sulit diamati secara langsung bahwa kegiatan yang diikuti oleh anak dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan berfikir. Namun demikian dapat dijelaskan bahwa pendidikan jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan daya analisis anak ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya. Pola-pola permainan yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan menekankan pentingnya nalar anak dalam hal membuat keputusan.

Taktik dan strategi yang melekat dalam berbagai permainan pun perlu dianalisis dengan baik untuk membuat keputusan yang tepat dan cepat. Secara tidak langsung keterlibatan anak dalam kegiatan pendidikan jasmani merupakan latihan untuk menjadi pemikir dan pengambil keputusan yang mandiri. Dalam pembelajaran pendidikan jasmani banyak sekali adegan yang memerlukan diskusi terbuka yang menantang penalaran anak. Teknik gerak dan prinsip yang mendasarinya merupakan topik-topik yang menarik untuk didiskusikan. Peraturan permainan dan variasi gerakan juga dapat dijadikan rangsangan bagi anak untuk memikirkan pemecahannya.

Dalam hal olah rasa,pendidikan jasmani menempati posisi yang sungguh unik. Kegiatan yang selalu melibatkan anak dalam kelompok kecil maupun besar merupakan wahana yang tepat untuk berkomunkasi dan bergaul dalam lingkup sosial. Dalam kehidupan sosial, setiap individu akan belajar untuk bertanggung jawab melaksanakan peranannya sebagai anggota masyarakat. Dalam masyarakat banyak norma atau aturan yang harus ditaati dan aturan main yang melandasinya.Melalui pendidikan jasmani norma dan aturan yang dipelajari,dihayati dan diamalkan. Untuk dapat berperan aktif anak pun harus menguasai beberapa keterampilan yang diperlukan. Sebenarnya kegiatan pendidikan jasmani disebut sebagai ajang  nyata untuk melatih keterampilan-keterampilan hidup(life skill ) agar seseorang dapat hidup berguna dan tidak menyusahkan masyarakat.

Kecerdasan emosional atau keterampilan hidup bermasyarakat/keterampilan sosial sangat mementingkan kemampuan pengendalian diri. Dengan kemampuan ini seseorang dapat berhasil mengatasi masalah . Anak yang rendah kemampuan pengendalian dirinya biasanya ingin memecahkan masalah dengan kekerasan dan tidak merasa ragu untuk melanggar berbagai aturan. Pendidikan jasmani menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri,membina ketekunan dan motivasi diri melalui bentuk-bentuk permainan atau olahraga.

Melalui pendidikan jasmani kepercayaan diri dan citra diri ( self esteem ) anak berkembang.Secara umum citra diri diartikan sebagai cara kita untuk menilai diri sendiri. Citra diri merupakan dasar untuk perkembangan kepribadian anak. Dengan citra dri yang baik seseorang merasa aman dan berkeinginan untuk mengeskplorasi dunia. Dia mau dan mampu mengambil resiko,berani berkomunikasi dengan orang lain, serta mampu menanggulangi stress.

Tujuan pendidikan jasmani menyangkut tiga aspek yaitu tujuan yang terkait dengan afektif, kognitif dan psikomotorik. Jika kita kaitkan dengan tujuan Pendidikan Nasional maka tujuan pendidikan jasmani mengarah pula pada tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum pada Undang-Undang no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Ternyata tujan Pendidikan jasmani sangat lengkap seperti tujuan pendidikan nasional.

Dari penjelasan tersebut lengkaplah pemahaman kita tentang  fungsi dan kontribusi pendidikan jasmani yang luar biasa terhadap pencapaian tujuan pendidikan secara menyeluruh. Dengan demikian sudah sewajarnya jika semua pihak (stake holder ) merespon secara positif setiap aktivitas pendidikan jasmani di sekolah. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani bisa berbeda karena berbeda dalam rancangan kurikulumnya. Di negara maju pendidikan jasmani dilaksanakan dengan berorientasi pada model-model kurikulum yang berbeda. Model kurikulum inilah yang menentukan perbedaan tekanan teradap program yang dilasanakan,apakah berorientasi pada peningkatan kesegaran jasmani atau keterampilan gerak,dll.Beberapa model kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani :

  1. Pendidikan Gerak ( Movement Education )

Pendidikan gerak menekankan pendidikan lewat gerak yang mula-mula dikembangkan oleh Rudolf Laban di Inggris.Laban mengembangkan konsep-konsep gerak yang berkaitan dengan ruang dan waktu sebagai bahan  untuk pengembangan  gerak-gerak tari. Aliran ini akhirnya dibawa ke Amerika Srikat dan diadopsi sebagai program pendidikan jasmani.

Lewat pendidikan gerak,keterampilan gerak siswa dikembangkan melalui pelaksanaan yang bervariasi,dikatakan dengan ruang,waktu,arah serta tingkat ketinggian dimana gerakan itu dilakukan. Tidak ada istilah benar salah,siswa akan lebih menguasai pergerakan tubuhnya disertai penegrtiannya. Diharapkan siswa menguasai tubuhnya dan mampu mengembangkan kapasitas fisik dan mentalnya untuk belajar,baik keterampilan fisik maupun keterampilan akademisnya.

  1. Pendidikan Olahraga (Sport Education )

Ada kesalahapahaman bahwa pendidikan jasmani sama dengan pendidikan olahraga.Keduanya berbeda,pendidikan jasmani lebih menekankan pada pengembangan keterampilan motorik dasar dan memperkaya perbendaharaan gerak, sedangkan pendidikan olah raga menekankan pada keterampilan berolahraga dan menghayati nilai-nilai yang diperoleh dari kegiatan berlatih dan bertanding. Semua siswa dibekali pengalaman nyata untuk berperan dalam pembinaan olahraga,seperti wasit,atlet atau pelatih. Dalam arti itulah pendidikan olahraga di AS.

  1. Pendidikan Perkembangan ( Developmental Education )

Model pendidikan perkembangan menfokuskan tujuan pendidikannya pada aktualisasi diri yang menekankan pertumbuhan pribadi dari setiap anak. Kurikulum dikembangkan berdasarkan tingkat perekembangan siswa,yang berusaha menyeimbangkan penekanan pada ranah kognitif,afektif dan psikomotor.

Pendidikan jasmani yang berorientasi pada developmental education mengarahkan kegiatan siswa melalui  pemenuhan kebutuhan keterampilan pada diri siswa,disesuaikan dengan tahap perkembangan fisik dan mentalnya,setiap kelompok diarahkan pada keterampilan gerak yang dibutuhkan siswa,misalnya bagi siswa usia dibawah lima tahun perlu dikembangkan kemampuan pengaturan tubuhnya dan bagi siswa di atasnya perlu dikembangkan keterampilan dasarnya.Sementara bagi siswa yang lebih dewasa diarahkan pada keterampilan khusus seperti yang dikembangkan dalam cabang olahraga tertentu.

  1. Pendidikan Petualangan

Pendidikan petualangan dikembangkan atas dasar kebutuhan untuk mengatasi tekanan-tekanan hidup semakin berat.Programnya berisi kegiatan yang menantang di alam bebas dan disesuaikan dengan kebutuhan para remaja untuk bertualang mengatasi resiko dan perjuangan melawan tantangan alam. Mendaki gunung, menyusuri sungai, berkemah, memanjat tebing dan variasi lainnya di alam terbuka merupakan contoh program pendidikan petualangan.

  1. Pendidikan Kebugaran (Fitness Education )

Sekolah memang dapat menekankan orientasinya pada pengembangan kebugaran siswanya.Program ini mengarahkan siswanya supaya aktif berlatih di sekolah dan di luar sekolah untuk hidup sehat dan memiliki kemampuan fisik yang baik.Pelaksanaan SKJ merupakan contoh program pendidikan kebugaran.

  1. Pendidikan Disiplin Keilmuan Olahraga (Kinesiological Studies )

Model ini pada hakikatnya sama dengan model pendidikan gerak dalam orientasi nilainya, tetapi menggunakan kegiatan gerak untuk mempelajari dasar-dasar disiplin gerak manusia (misalnya fisiologi latihan,Biomekanika,dan kinesiologi). Karena itu model inipun disebut juga pendidikan disiplin keilmuan olahraga.

Penekanan pembelajaran model ini adalah pada pengembangan keterampilan memecahkan masalah,khususnya dengan menggunakan kombinasi antara pembelajaran konsep dan praktiknya di lapangan.Tujuan utama adalah menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman kognitif tentang bagaimana dan mengapa suatu keterampilan gerak berlangsung demikian.Model ini didasari dua pendekatan yang khas dalam studi kinesiologi,yaitu:isi atau materi diatur dalam sebuah unit-unit kegiatan,dan konsep-konsep disiplin utama diintegrasikan dengan pengajaran keterampilan dan yang kedua; unit-unit kegiatan diatur disekitar konsep-konsep khusus yang menjadi prioritas di atas  pengajaran keterampilan.

Pemakaian model ini umumnya dipilih oleh guru pendidikan jasmani di tingkat sekolah menengah,meskipun banyak sekolah menengah telah memasukkan satu atau dua unit konsep dalam kurikulumnya,khusus dipadukan dengan sehat-bugar-jasmani,sedikit sekali sekolah yang hanya memakai model kinesiologi secara tunggal.Jika kita telah sepakat untuk memilih model kurikulum yang akan digunakan maka konsekwensinya tentu akan menerapkan dalam praktik/pengelolaan  pembelajaran.

  1. Peningkatkan Kualitas dan Kuantitas Guru Pendidikan Jasmani

Seperti yang teruang dalam Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2005 tentang  Standar Nasional Penididikan (SNP)pasal 29 ayat 2 dikatakan point (2) Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:a.kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)b.latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan c.sertifikat profesi guru untuk SD/MI .Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru pada pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa” Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional.Dijelaskan pula bahwa Guru pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI)atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

Secara bertahap kualifikasi akademik dan kompetensi tenaga pendidikan kita akan mengacu kepada peraturan pemerintah maupun peraturan menteri tersebut di atas. Bagaimana kondisi dilapangan saat ini?sebagai gambaran dapat penulis sampaikan data tentang  guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di Jawa Tengah sampai dengan akhir tahun 2006.

Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.

Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman.

Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor, serta life skill.

Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional. Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosionalsportivitas- spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

  1. 5.   Tujuan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar    peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

  1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidupsehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang  terpilih
  2. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih  baik.
  3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
    1. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi   nilai nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
    2. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab,kerjasama,   percaya diri dan demokratis
    3. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri     sendiri,orang lain dan lingkungan
    4. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
      1. 6.  Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani Olaraga dan Kesehatan

Ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan  meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

  1. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan.eksplorasi  gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket,   bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya
  2. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya
  3. Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan   tanpa alat,ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas  lainnya Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam    aerobic serta  aktivitas lainnya
  4. Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan  bergerak  di air, dan renang serta aktivitas lainnya
  5. Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan Lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung
  6. Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam   kehidupan sehari- hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap  sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek

B. Tugas Pokok dan Fungsi Lembaga Penjaminan mutu Pendidikan (LPMP)

1. Diklat fungsional guru

Pendidikan dan pelatihan fungsional adalah upaya peningkatan kompetensi guru dan/atau pemantapan wawasan, pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan yang sesuai dengan profesi guru yang bermanfaat dalam pelaksanaan tugas guru melalui lembaga yang memiliki izin penyelenggaraan dari instansi yang berwenang

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Dalam proses pembelajaran, guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting, selain kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan lainnya. Guru merupakan sumber daya manusia yang menjadi perencana, pelaku dan penentu tercapainya tujuan pembelajaran. Guru adalah orang-orang yang dalam melaksanakan tugasnya akan berhadapan dan berinteraksi langsung dengan para peserta didiknya dalam suatu proses yang sistematis, terencana, dan bertujuan. Guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan di bidang pendidikan. Untuk itu, Pemerintah melalui UU No. 14 tahun 2005 mensyaratkan guru harus mempunyai empat kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Sesuai dengan Peraturan Mendiknas No. 66 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan, tugas LPMP adalah melaksanakan penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah di tingkat provinsi. Salah satu fungsinya adalah melakukan fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di tingkat provinsi. Untuk mendukung peningkatan kompetensi guru di tingkat dasar dan menengah di Kabupaten/Kota se Provinsi Jawa Tengah, maka tahun 2012 LPMP Provinsi Jawa Tengah perlu memfasilitasi guru SD,SMP dan SMA melalui kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajar Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

  1. Silabus Diklat

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai “Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran” (Salim, 1987: 98).

Dalam penyelenggaraan diklat di LPMP Jateng diharuskan membuat silabus diklat sebelum kegiatan diklat dilaksanakan,hal ini penting karena silabus akan menjadi acuan tentang materi apa yang akan disajikan,bentuk/aktivitas dan jenis kegiatan apa yang harus dilakukan oleh narasumber/penyaji dan peserta diklat.

Adapun mekanisme penyusunan silabus yang dilakukan oleh LPMP jawa Tengah sebagai berikut:

Gambar 01

Keterangan:

  1. Mempelajari temuan implementasi KTSP

Dari hasil temuan implementasi KTSP yang telah dilakukan olehLPMP Jawa  Tengah dapat menjadi masukan penting dalam merancang silabus diklat.Fakta  menunjukkan bahwa guru-guru (Guru penjasorkes dan mapel lainnya) ternyata masih perlu ditingkatkan kompetensinya, apakah di kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadiannya.

  1. Mengundang calon penyaji untuk menyusun silabus

Mengingat narasumber di LPMP sangat terbatas maka perlu menjalin kerjasama dengan institusi atau lembaga lain yang memiliki narasumber yang memiliki kompetensi memadai,seperti Unnes,dan UNS.

  1. Diskusi penyusunan Silabus

Agar memperoleh siabus yang cocok atau sesuai maka dilakukan diskusi tanya jawab dan penayangan bentuk dan isi silabus sekaligus memilih alternatif silabus yang dipilih.

  1. Finalisasi silabus

Dari beberapa silabus yang ditayangkan kemudian dipilih silabus yang paling cocok untuk digunakan.

  1. Struktur program

Setelah silabus tersusun selanjutnya membuat struktur program kebiatan diklat.bentuk dan isi struktur program sebagai berikut:

Kegiatan dilakukan selama 5 (lima) hari dengan pola 45 Jam Pelajaran yang terdiri dari program umum,program pokok dan prgram penunjang yaitu:

1.  Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2.  Analisis Standar Isi Mapel Penjasorkes

3.  Penyusunan Silabus

4.  Model Pembelajaran

5.  Pengembangan RPP

6.  Pengembangan Instrumen Penilaian

7.  Pengembangan Media Pembelajaran

8.  Simulasi Mengajar

9.  Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

10.Rencana Tindak Lanjut (RTL)

STRUKTUR PROGRAM DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI

GURU MAPEL PENJASORKES TAHUN 2012

C.    Silabus Mata Pelajaran pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengem­bangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber.

SP

pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual. Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus

I.  Prinsip Pengembangan Silabus

  1.                 1.    Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

  1.                 2.     Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.  Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran,  strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran

  1.               3.       Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media,  serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

  1.               4.      Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta  teknik dan  instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini,  pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

  1.             5.         Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD.  Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis

  1.           6.           Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena  dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran.  Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

  1.         7.             Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

      8.       Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).

2.  Langkah-langkah Pengembangan Silabus

  1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada  Standar Isi, dengan  memperhatikan hal-hal berikut:

  1. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan  materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
  2. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata

pelajaran;

  1. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata

pelajaran.

  1. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

  1. potensi peserta didik;
  2. relevansi dengan karakteristik daerah,
    1. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
  3. kebermanfaatan bagi peserta didik;
  4. struktur keilmuan;
  5. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
  6. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
  7. alokasi waktu.

            3.  Melakukan Pemetaan Kompetensi

  1. mengidentifikasi SK, KD dan materi pembelajaran
  2. Mengelompokkan SK, KD dan materi pembelajaran
  3. c.    Menyusun SK, KD sesuai dengan keterkaita

            4.  Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan,  dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.  Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

a.   Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

  1. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  2. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  3. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

              5.   Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya).

Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator.

  1. 6.      Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

  1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
    1. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
    2. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.
    3. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
    4. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

7.  Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.  Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

8.  Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

  1. Pengertian

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.

Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan ke­giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun  RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

  1. 2.    Komponen RPP

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Komponen RPP adalah:

  1. Identitas mata pelajaran, meliputi:

a.             satuan pendidikan,

b.             kelas,

c. semester,

d.             program studi,

e.             mata pela­jaran atau tema pelajaran,

f. jumlah pertemuan.

  1. standar kompetensi

merupakan kualifikasi kemam­puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

  1. kompetensi dasar,

adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter­tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe­tensi dalam suatu pelajaran.

  1. indikator pencapaian kompetensi,

adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai­an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera­sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

  1. tujuan pembelajaran,

menggambarkan proses dan ha­sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

  1. materi ajar,

Memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro­sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe­tensi.

  1. alokasi waktu,

Ditentukan sesuai dengan keperluan un­tuk pencapaian KD dan beban belajar.

  1. metode pembelajaran,

Digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela­jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi­lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ­asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

  1. kegiatan pembelajaran :
    1.   Pendahuluan

Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un­tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

  1.  Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di­lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang­kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

  1. Penutup

Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un­tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpul­an, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindaklanjut.

  1. Penilaian hasil belajar

Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom­petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.

  1. Sumber belajar

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom­petensi.

  1. 3.    Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
  2. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik

RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

  1. Mendorong partisipasi aktif peserta didik

Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, krea­tivitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.

  1. Mengembangkan budaya membaca dan menulis

Proses pembelajaran   dirancang untuk mengembang­kan kegemaran membaca, pemahaman beragam ba­caan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

  1. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut

RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

  1. Keterkaitan dan keterpaduan

RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, ke­giatan pembelajaran, indikator pencapaian kompeten­si, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengako­modasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

  1. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegra­si, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

  1. 4.    Langkah-Langkah Penyusunan RPP

Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari  mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian.  Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.

Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut.

          1.  Mencantumkan Identitas

Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas­, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.

Hal yang perlu diperhatikan adalah :

  1. RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
    1. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan)
    2. Indikator merupakan:
  • ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa   peserta didik telah mencapai kompetensi dasar
  • penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan  potensi daerah.
  • rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
  • digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
  1. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 45 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam  satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada  kompetensi dasarnya.

 

2.    Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran.

Misalnya:

Kegiatan pembelajaran:  ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”.

Tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat:

  1.  mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia.
  2.  menyebutkan bagian-bagian jantung.
    1. merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya.
    2. mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru.

Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.

3.   Menetukan Materi Pembelajaran

Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran,  dapat diacu dari indikator.

Contoh:

Indikator: Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.

Materi pembelajaran:

Ciri-Ciri Kehidupan:Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.

       4.  Menentukan Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:

  1. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses,   kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
  2. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi,  tanya jawab, e-learning dan sebagainya.

 5.  Menetapkan Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan  pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Kegiatan Pendahuluan
  • §   Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi dan sebagainya.
  • Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.
  • Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dsb.
  • Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.
  • Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelak­sana­an pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).
  1. 2.    Kegiatan Inti

Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing. Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator.

Untuk memudahkan, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS), baik yang berjenis cetak atau noncetak. Khusus untuk pembelajaran berbasis ICT yang online dengan koneksi internet, langkah-langkah kerja peserta didik harus dirumuskan detil mengenai waktu akses dan alamat website yang jelas. Termasuk alternatif yang harus ditempuh jika koneksi mengalami kegagalan.

  1. 3.    Kegiatan penutup
  • Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan.
    • Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat dengan memberikan tes tertulis atau tes lisan atau meminta peserta didik untuk mengulang kembali simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya jawab dengan mengambil ± 25% peserta didik sebagai sampelnya.
    • Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidi­/pengayaan.

Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

 6.  Memilih Sumber Belajar

Pemilihan  sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan.  Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya,  sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.

Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

  7. Menentukan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.     Setting Penelitian
    1. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.Menurut Maman (2002; 3) penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejala sosial. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah (Husein Umar, 1999:81). Sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan pada bagaimana proses diklat  yang terlaksana secara efektif agar mampu meningkatkan kompetensinya bagi peserta diiklat.Pada akhir kegiatan penelitian akan dideskrepsikan tentang sejauhmana diklat ini dapat  meningkatkan kemampuan guru untuk menyusun silabus dan RPP
    2.  Waktu, penelitian ini direncanakan dilakukan pada bulan Mei s/d bulan September  2012.Waktu 5 bulan tersebut digunakan untuk kegiatan perencanaan,pelaksanaan,

Pelaporan dan seminar.Adapun jadwal kegiatan akan dilaksanakan sebagai berikut:Tabel I. tentang jadwal kegiatan penelitian.

Gambar 03. Jadwal

  1. Tempat penelitian

Penelitian dilakukan di tempat kegiatan diklat yaitu di LPMP Jawa Tengah,jl.kyai Mojo Srondol Kulon Semarang..Kegiatan penelitian di LPMP Jawa Tengah bertujuan untuk mencermati keterlaksanaan proses kegiatan diklat,dan peningkatan guru dalam menyusun Silabus dan RPP

Subjek penelitian

Subjek penelitian adalah guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SD SMP dan SMA yang dilakukan secara acak yang mengikuti pendidikan dan latihan di LPMP Jawa Tengah tahun 2012

  1. A.     Sumber data dan teknik pengumpulan data

Data diambil langsung dari subjek penelitian,yaitu dari peserta diklat guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SD,SMP dan SMK tahun 2012 yang dilakukan secara random. Data Kemampuan kognitif berdasarkan hasil pretes dan postes,dan kemampuan menyusun silabus dan RPP beradasrkan dokumen hasil penyusunan silabus dan RPP

  1. B.       Analisis data

a.   Data kuantitatif menggunakan analisis  deskriptif komparatif yaitu   membandingkan kompetensi awal, sebelum pelaksanaan diklat dibandingkan dengan kompetensi setelah kegiatan diklat

b. Data kualitatif hasil pengamatan maupun wawancara menggunakan  analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi

D.     Penyajian data

Setelah hasil penelitian diperoleh maka disajikan dalam  dalam bentuk  tabel,dan juga dideskrepsikan atau  diuraiankan  meliputi perencanaan,pelaksanaan,pengumpulan dan analisis data,penulisan laopran hasil penelitian,dan seminar hasil penelitian,sebagaimana bagan di bawah ini:

Gambar 04 Penyajian Data

Gambar 1 tentang penyajian data

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari beberapa kelas SD,SMP,dan SMA yang mengikuti kegiatan diklat diambil secara acak satu kelas untuk digunakan sebagai subjek penelitian hasilnya sebagai berikut :

  1. A.     Hasil penyusunan silabus  untuk masing- masing satuan pendidikan

INSTRUMEN TELAAH SILABUS

Gambar 05 Instr Telaah Silabus

INSTRUMEN TELAAH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Gambar 06. Instr Telaah RPP

  1. A.     Hasil Pre Tes dan Pos Tes Peserta Diklat SD,SMP,dan SMA

DAFTAR NILAI PRE TEST  POST TEST

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMA MAPEL PENJASORKES

DI LPMP JAWA TENGAH TANGGAL 18 S.D 22 SEPTEMBER 2012

Gambar 07. Tabel Pre Test SMA

 

DAFTAR NILAI PRE TEST  POST TEST

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SMP MAPELPENJAS ORKES

TANGGAL 29 MEI S.D. 2 JUNI 2012

DI LPMP JAWA TENGAH

 

Gambar 08. Tabel Post Test SMP

DAFTAR NILAI PRE TEST  POST TEST

DIKLAT PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SD MAPEL PENJASORKES

TGL 28 JUNI S.D 2 JULI 2011

Gambar 09. Tabel Pre Test SD

 

  1. A.   Analisis hasil penyusunan silabus dan RPP
    1. Dari hasil penyusunan silabus dari setiap peserta diklat dari Guru SD,SMP dan SMA secara kualitatif menunjukkan kualitas yang lebih baik(meningkat) jika dibanding dengan silabus yang dibuat oleh peserta diklat sebelum mengikuti diklat.Hasil penyusunan silabus yang dibuat oleh peserta diklat dari guru SD,SMP dan SMA,cenderung memiliki venomena yang relatif sama.Agar lebih jelas peneliti sampaikan seperti di bawah ini.

Menyusun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah benar semua karena memang pada dasarnya hanya mengambil secara utuh dari lampiran Standar ISI

  1. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran sudah memenuhi kriteria dan memenuhi langkah-langkahnya
  2. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran belum meliputi 3 aspek yang mengarah pada

pada penguasaan kompetsi afektif,kognitif dan psikomotor

1)  Kegiatan pembelajaran belum menunjukkan secara jelas aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa

2) Kegiatan pembelajaran belum disusun berdasarkan minimal dua unsur yaitu kegiatan dan objek belajar.

3) Belum mencatumkan secara jelas aktivitas pembelajaran sesuai metode  pembelajaran yang digunakan

  1. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

1) Penulisan Indikator belum mencakup 3 aspek yaitu:afektif kognitif dan  psikomotor

2) Penulisan pada indikator belum secara benar menggunakan kata kerja operasional

  1. Penilaian

1) Bentuk penilaian belum mencakup 3 aspek

2) Penilaian karakter belum dicantumkan

3) Penilaian hanya mencantumkan aspek motorik

4) Contoh belum ditulis secara lengkap

  1. Menentukan Alokasi Waktu

Alokasi waktu sudah terinci sesuai KD

  1. Menentukan Sumber Belajar

1)  Sumber belajar  terfokus pada buku

2)  Ditulis dengan kata/kalimat yang cukup lengkap

3)  Selain menuliskan sumber,juga menuliskan alat sarana dan prasaraana pembelajaran

  1. Analisis hasil penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP)

Dari hasil penyusunan RPP dari setiap peserta diklat dari Guru SD,SMP dan SMA secara kualitatif menunjukkan kualitas yang lebih baik(meningkat) jika dibanding dengan RPP yang dibuat oleh peserta diklat sebelum mengikuti diklat.Hasil penyusunan RPP yang dibuat oleh peserta diklat dari guru SD,SMP dan SMA,cenderung memiliki gejala yang relatif sama.

Agar lebih jelas peneliti sampaikan seperti di bawah ini.

  1. SK dan KD

1.  Penyusunan SK dan KD sudah saling terkait terkait

2. Penyusunan SK dan KD sudah lengkap sesuai yang tercantum pada

standar isi

  1. Indikator pencapaian kompetensi
    1. Indikator belum mengacu pada indikator yang muncul di silabus
    2. Indikator sudah dikembangkan se-kurang-kurangnya 3 indikator
    3. Indikator sudah meliputi 3 ranah (kognitif.afektif dan psikomotor
      1. Tujuan Pembelajaran
        1. Tujuan pembelajaran belum menunjukkan proses(baru hasil)
        2.  Belum terinci sesuai indikator
        3. Materi ajar

                      Materi pelajaran belum diuraikan berdasarkan ndikator yang dikembangkan

  1. Alokasi waktu

                       Masing-masing         tahap kegiatan pembelajaran belum  tercantum

  1. Metode Pembelajaran
    1. Metode yang digunakan masih ada yang tidak sesuai dengan tujuan

pembelajaran

  1. Metode yang digunakan masih ada yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
  2. Mencantumkan strategi dan pendekatan
  3. Kegiatan Pembelajaan
    1. Sudah mencantumkan langkah- langkah pembelajaran
    2. Langkah pembelajaran terdiri dari a)pendahuluan b)kegiatan inti dan kegiatan penutup

Pendahuluan

Pendahuluan mencakup

a)orientasi,b)apersepsi,c)motivasi,d) menyampaikan tujuan pembelajaran

Kegiatan Inti

Sudah mencantumkan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri:

a)eksplorasi,b)elaborasi,c) konfirmasi

                      Rencana pemberian tugas

Sudah mencantumkan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan metode yang digunakan

Pada penutup

  1. Sudah mencantumkan Rencana simpulan
  2. Rencana penguatan
  3. Rencana penilaian
  4. Penilaian hasil belajar
    1. Jenis penilaian sudah mencakup 3 aspek yaitu aspek afektif,kognitif dan psikomotor
    2. Prosedur penilaian sesuai dengan inidikator yang dikembangkan
    3. Sumber Belajar

Sumber belajar ditulis  cukup lengkap

  1. Analisisi hasil pre tes dan pos tes

Pre tes dapat digunakan sebagai prediksi/sebagai gambaran tentang kompetesi awal yang dimiliki oleh peserta sebelum mengikuti diklat,sedangkan pos tes sebagai gambaran tingkat kompetensi yang dimiliki oleh peserta setelah mengikuti diklat

Adapun hasil pre tes dan pos tes dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 10 Pre Post

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa sudah ada peningakatan kompetensi profesional (kognitif) sudah ada peningkatan walaupun masih relatif kecil.

  1. Pembahasan Hasil

Berdasarkan  hasil penyusunan silabus dan RPP  peserta diklat secara kualitatif meningkat lebih baik,dan secara kualitatif hasil pre tes dan pos tes peserta diklat juga semakin menngkat.Hal ini menunjukkan bahwa kompetentesi peserta diklat semakin baik jika dibandikan antara sebelum diklat dan setelah diklat.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Simpulan
  1. Dari pembahasan dan hasil analisis data seperti tersebut di atas ternyata diklat peningkatan kompetensi guru penjasorkes tahun 2013 yang dilakukan oleh LPMP Jawa Tengah mampu meningkatkan kompetensi peserta diklat dalam menyusun perangkat pembelajaran yaitu kemampuan menyusun silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

Aspek yang meningkat kompetensi terdiri dari

a.Cara menyusun kegiatan pembelajaran

b.Cara menyusun indikator

c.Memilih materi pelajaran

d.Memilih instrumen penilaian

e.Memilih metode pembelajaran

f. Memilih media pembelajaran

2.Dilihat dari hasil pre tes dan pos tes pesert diklat,ternyata tingkat pemahaman peserta diklat semakin meningkat

Secara umum kesalahan yang dilakukan antara peserta diklat SD,SMP,dan SMA memiliki kesalahan yang sama dan atau hampir sama antara lain adalah:

  1. Dalam hal mengembangkan indikator
  2. Merumuskan tujuan pembelajaran
  3. Merencanakan kegiatan Ekplorasi,Elaborasi dan Konfirmasi dalam kegiatan pembelajaran
  4. Merumuskan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur

Ternyata kompetensi profesionalnya pun mengalami peningkatan,hal ini terbukti dengan meningkatnya hasil pos tes dibanding dengan hasil pre tes  untuk peserta diklat SD,SMP maupun SMA,walaupun masih relatif kecil

  1. Saran

Agar kegiatan diklat lebih dapat meningkatkan peserta diklat dalam hal menyusun silabus,RPP dan kompetensi profesionalnya maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut:

  1. Proses diklat lebih banyak lagi melibatkan keaktifan peserta
  2. Peserta diklat perlu disarankan untuk memahami tentang peraturan menteri Pendidikan Nasional yang terkait dengan standar isi,standar penilaian,standar preoses,standar kompetensi lulusan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ateng,Abdulkadir.1993.Pendidikan jasmani di Indonesia.Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Keolahragaan.Jakarta:Guna Krida Prakarsa.

Depdiknas,1992.Azas dan Landasan Pendidikan Jasmani.Jakarta:Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Pendidikan Tinggi.

Depdiknas,2003.Undang-Undang no.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta:Depdiknas.

­­­­­­­­Depdiknas.2006.Peraturan Menteri no.22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.Jakarta:Badan Standar Nasonal Pendidikan.

Depdiknas.2007.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.16 tahun 2007.Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi  Guru.Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas.2007.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.41 Tahun 2007.Standar Proses .Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas.2007.PeraturanMenteri Pendidikan Nasional no.19 tahun 2007 tentang  Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta:Depdiknas.

Depdiknas.2003.Standar Kuriklum Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani SMA/MA

Jakarta:Pusat Kurikulum,Balitbang Depdiknas.

Hamid,Abdul,Dkk.1995.Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.Jakarta:yudhistira

Kartaamihardja,Supandi..2002.Perkembangan Pendidikan Jasmani Masalah dan

Tantangan.Makalah disajikan  pada Seminar dan Lokakarya  Nasional di

           Semarang tanggal 4-6 Agustus 2002.

Luthan,Rusli.1998.Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga:Arah Pembangunan pada Abad ke 21.Makalah disajikan pada Konferensi Nasional Pendidikan dan Olahraga di Bandung tanggal 22 September 1997.

Syarifudin.1997.Pokok-Pokok Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan

Jasmani.Jakarta :Pusat Perbukuan Depdikbud.

 

KTI WI APLIKASI HYPERTEXT ME POKJA PENGAWAS MANDIRI

PENGEMBANGAN MEDIA DIKLAT INTERAKTIF

PROGRAM APLIKASI

 HYPERTEXT TOOL APPLICATION

UNTUK SIMULASI MONITORING EVALUASI

POKJA PENGAWAS SEKOLAH MANDIRI

DALAM  DIKLAT ME BERMUTU DI LPMP JAWA TENGAH

Drs. Sri Wasono Widodo,M.Pd.

Widyaiswara LPMP Jawa Tengah

ABSTRAK

Widodo, Sri Wasono. 2013. Pengembangan Media Diklat Interaktif Program Aplikasi Hypertext Tool Application untuk Simulasi Monitoring Evaluasi Pokja Pengawas Sekolah Mandiri dalam Diklat ME BERMUTU di LPMP Jawa Tengah”. Laporan Penelitian Pengembangan, diajukan dalam rangka kegiatan pengembangan profesi Widyaiswara.

Penelitian pengembangan ini didasarkan atas kebutuhan akan keefektivan kegiatan simulasi monitoring evaluasi KKPS/MKPS Mandiri dalam Diklat ME BERMUTU di LPMP Jawa Tengah. Stakeholder kegiatan memerlukan suatu program aplikasi yang berfungsi sebagai multi media interaktif. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam simulasi monitoring dan evaluasi. Tujuan penelitian ini agar program aplikasi yang dihasilkan berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator maupun peserta diklat dalam simulasi maupun pelaksanaan monitoring evaluasi Program BERMUTU. Spesifikasi program aplikasi yang diPengembangan bertipe Hypertext Tool Application, berbasis kombinasi Spreadsheet Application dan Visual Basic Application Microsoft Excel yang memiliki kompatibilitas di Excel 2003 atau generasi setelahnya. Produk yang dihasilkan diuji coba secara terbatas dengan responden seorang National Core Team Program BERMUTU, 2 orang fasilitator diklat dan 8 orang yang pernah mengikuti kegiatan Diklat ME BERMUTU tahun sebelumnya. Instrumen yang digunakan adalah angket yang telah divalidasi. Setelah direvisi, media diklat interaktif program aplikasi didiseminasikan dalam diklat ME BERMUTU dan diunggah ke web sehingga dapat diunduh secara online.

Kata Kunci : media diklat interaktif, Hypertext Tool Application, simulasi monev.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) merupakan salah satu langkah Pemerintah dalam mengimplementasikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara efektif, efisien, dan akuntabel. Program ini diimplementasikan mulai tahun 2008 hingga tahun 2013. Melalui program BERMUTU tersebut berbagai best practices (pengalaman-pengalaman terbaik) dari berbagai negara dapat diadopsi dan atau diadaptasi sebagai salah satu bahan rujukan. Di samping itu, Program BERMUTU diharapkan dapat mempercepet proses sertifikasi, peningkatan kualifikasi guru serta pengembangan profesional guru secara berkelanjutan (Continuous Professional Development) yang berdasarkan prinsip hemat atau efektif biaya (World Bank,2007:55). Pelaksanaan program BERMUTU menggunakan dana dari berbagai sumber untuk operasional kegiatan kelompok kerja. Dana Bantuan Langsung (DBL) ini berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Belanda dan Bank Dunia (POM BERMUTU, 2008:1). Program ini juga diharapkan dapat mempercepat pencapaian kualitas pendidikan sesuai standar yang diharapkan. Untuk itu, LPMP memiliki peran antara lain dalam monitoring dan evaluasi kegiatan Program BERMUTU tersebut.

Dalam memenuhi kualitas pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan global, kriteria minimal layanan sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang diatur dengan PP No. 19 Tahun 2005. Peraturan tersebut mendeskripsikan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 2).

Layanan pendidikan yang berkualitas juga mencakup kegiatan diklat yang merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam Program BERMUTU. Pemanfaatan media dengan memperhatikan prinsip-prinsip andragogis  dan teori pembelajaran orang dewasa menjadi komponen vital dalam suatu kegiatan diklat.  Media diklat yang interaktif berbasis teknologi informasi dan komunikasi bisa meningkatkan keefektivan pembelajaran. (Wang: 2010).

Dalam kegiatan diklat yang berkualitas, komponen Widyaiswara menjadi salah satu kunci keberhasilan. Indikator kompetensi profesional seorang Widyaiswara antara lain kemampuan dalam menyusun karya tulis ilmiah (KTI). Pengembangan media diklat melalui suatu kegiatan penelitian prngembangan (research and development/RD) yang hasilnya dituangkan dalam suatu tulisan, dapat dikategorikan sebagai kegiatan tersebut. Kemampuan menulis ini dapat mendukung tugas utama widyaiswara yaitu mendidik, mengajar, dan melatih dalam kegiatan diklat. Pengembangan media juga berfungsi untuk meningkatkan keefektivan proses pembelajaran dalam diklat (lampiran Peraturan Kepala LAN No,9 Tahun 2008).

Keberhasilan program BERMUTU perlu diukur, termasuk bagi kelompok-kelompok kerja Mandiri tersebut  –termasuk di dalamnya untuk Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) di jenjang sekolah dasar dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) di jenjang sekolah menengah pertama– diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang efektif dan efisien. Komponen yang penting dari ME Program BERMUTU tersebut antara lain faktor sumber daya manusia  (dalam hal ini petugas ME) dan perangkat keras maupun perangkat lunak instrumen ME tersebut. Pembekalan Petugas ME di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah biasanya dilakukan melalui kegiatan Diklat Petugas ME. Di dalam diklat tersebut terdapat kegiatan simulasi pelaksanaan ME. Dalam kegiatan simulasi tersebut, peserta diklat harus berlatih memahami cara mengumpulkan data dan menganalisis hasilnya secara akurat sehingga ketika kegiatan ME yang sesungguhnya berlangsung bisa berjalan efisien dan efektif. Peneliti memandang perlu untuk mengembangkan program aplikasi yang bisa mendukung baik kegiatan simulasinya maupun kegiatan supervisinya.  Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, Peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan Media Diklat Interaktif Program Aplikasi Hypertext Tool Application untuk Simulasi Monitoring Evaluasi Pokja Pengawas Sekolah Mandiri dalam Diklat ME BERMUTU di LPMP Jawa Tengah”.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Bagaimana mengembangkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator mengajar dan melatih ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  2. Bagaimana mengembangkan program aplikasi yang mampu berfungsi dalam simulasi ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  3. Bagaimana mengembangkan program aplikasi yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri secara efisien dan efektif.

C. Tujuan Penelitian Pengembangan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah:

  1. Menghasilkan program aplikasi yang berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator mengajar dan melatih ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  2. Menghasilkan program aplikasi yang mampu berfungsi sebagai simulator ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  3. Menghasilkan program aplikasi yang dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri secara efisien dan efektif.

D. Manfaat Penelitian Pengembangan

Manfaat dari penelitian ini adalah:

  1. Bagi fasilitator diklat. program aplikasi yang dihasilkan berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantunya dalam mengajar dan melatih ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  2. Bagi peserta diklat, program aplikasi yang dihasilkan dapat membantunya dalam melakukan simulasi ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  3. Bagi pengguna, program aplikasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk melaksanakan  ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri secara efisien dan efektif.

E. Definisi Operasional

Penelitian pengembangan program aplikasi ini mengggunakan beberapa istilah yang spesifik. Untuk mempermudah pemahaman pembaca karya tulis ini, berikut dideskripsikan beberapa istilah yang banyak digunakan. Beberapa istilah tersebut beserta penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. Diklat ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan mempersiapkan petugas ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri yang pesertanya berasal dari widyaiswara dan staf  LPMP Jawa Tengah ditambah unsur pengawas sekolah.
  2. Simulasi ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri adalah kegiatan dalam diklat yang mensimulasikan pengumpulan dan analisis data dalam ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.
  3. Multimedia diklat interaktif adalah alat bantu pembelajaran dalam suatu kegiatan diklat yang memiliki karakteristik peserta diklat dapat memberikan kontrol terhadap alat tersebut sehingga ia dapat mereview materi sesuai kepentingan individualnya dalam berinteraksi dengan materi diklat.
  4. Multimedia interaktif tipe hypertext adalah linking dari data, kata atau frasa ke data, kata atau frasa lain dalam satu atau lain dokumen yang direkayasa untuk interaktivitas dari suatu multimedia dalam kegiatan IHT. .
  5. Spreadsheet Applications merupakan suatu spreadsheet file (atau beberapa file yang saling terhubung) yang dirangkai sedemikian rupa sehingga end user dapat menggunakan program untuk suatu kegiatan secara efisien dan efektif tanpa berlatih intensif.
  6. Pemrograman VBA Excel adalah bahasa pemrograman Visual Basic Application pada Excel Microfoft Office 2010 namun memiliki kompatibilitas pada  platform operating system Microsoft Office 2003 atau generasi sesudahnya.
  7. Peneliti atau Pengembang atau Developer adalah Orang yang membuat program aplikasi sedangkan End User atau User atau Pengguna adalah Orang yang menggunakan program aplikasi. Pengembang kadang-kadang sekaligus Pengguna (Walkenbach, 2010:102).
  8. Kinerja media diklat yang efektif adalah suatu kondisi di mana hasil uji coba terbatas di lapangan menunjukkan media tersebut mampu membantu peserta diklat mensimulasikan pengumpulan data dan analisis data ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri.

F.  Asumsi dan Keterbatasan

1.  Asumsi

Asumsi dalam penelitian ini adalah:

  1. Responden memberikan informasi secara jujur dan benar, terhadap media diklat yang digunakan dalam simulasi melalui angket respon peserta diklat.
  2. Peneliti menuliskan hasil pengamatan terhadap penggunaan media diklat interaktif pada kegiatan simulasi secara akurat, objektif dan jujur ke dalam lembar pengamatan. Dengan demikian hasil pengamatan tersebut tidak direkayasa oleh peneliti agar hasil yang diperoleh akuntabel.

2. Keterbatasan

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah:

  1. Desain program aplikasi media diklat interaktif dalam penelitian ini terbatas hanya pada tipe Hypertext Tool Application.
  2. Program aplikasi hanya dipergunakan untuk simulasi ME Program BERMUTU untuk KKPS/MKPS Mandiri saja.
  3. Program aplikasi hanya terbatas menganalisis data, bukan interpretasinya.

II. KAJIAN TEORI

A.  Simulasi Monitoring Evaluasi KKPS/MKPS Mandiri dalam Diklat ME BERMUTU
Fokus Program BERMUTU antara lain upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Sumber pendanaan program berasal dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta dana pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Balitbang Depdiknas dan Pemerintah Daerah (Dirjen PMPTK,2008:I-1).LPMP dalam Program BERMUTU memiliki peran antara lain memberikan provisi berupa bantuan teknis untuk membangun kapasitas kepala sekolah dan pengawas sekolah. Dalam hal ini, LPMP memiliki peran sebagai pengendali mutu manajemen, harus membangun kapasitas kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan melalui dukungan terhadap kegiatan gugus, seperti pelaksanaan analisis kebutuhan pelatihan, mempersiapkan pelaksanaan pelatihan dan publikasinya, perancangan penggunaan modul pelatihan, mempersiapkan fasilitator pelatihan, dan monitoring dan evaluasi kegiatan pelatihan (World Bank,2007:55).Cakupan Program BERMUTU meliputi empat komponen. Komponen pertama terkait Perguruan Tinggi yang mempersiapkan tenaga pendidik. Komponen kedua menyangkut penguatan struktur peningkatan kualitas guru pada tingkatan lokal. Komponen ketiga menyangkut reformasi akuntabilitas guru dan sistem insentif untuk penghargaan performans guru dan pengembangan karirnya. Komponen keempat adalah perbaikan koordinasi program, monitoring dan evaluasi (World Bank,2007:11). Sesuai dengan tugas LPMP, maka ME di LPMP hanya terkait dengan komponen kedua dan ketiga.Dasawarsa terakhir ini ditandai dengan beberapa perubahan paradigma dalam kegiatan monitoring evaluasi (ME) bidang pendidikan. Kini Kita hidup di masa yang menuntut akuntabilitas publik yang lebih tinggi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Muncullah tuntutan bahwa seorang guru harus menunjukkan profesionalismenya dalam mengajar yang bermuara pada suksesnya belajar siswa (student learning). Seorang guru harus dapat membuktikan bahwa siswa mempelajari apa yang ia butuhkan pada tingkatan  pemahaman tertinggi dan semuanya merupakan hasil dari apa dan bagaimana guru mengajar. Paradigma pembelajaran seperti ini harus dapat digali dalam suatu kegiatan monitoring dan evaluasi (Aseltine,2006:12).Sistem Monitoring dan Evaluasi Program bermutu secara garis besar terdiri dari 2 (dua) jenis ME yaitu PMME (Program Management Monitoring and Evaluation) dan PIME (Program Impact Monitoring and Evaluation). PMME adalah ME yang ditujukan untuk mengendalikan pengelolaan semua subkomponen dan kegiatan yang merupakan bagian dari Komponen 1, 2, 3, dan 4 agar semua kegiatan tersebut dilaksanakan secara tepat waktu, tepat prosedur, tepat sasaran, dan tepat hasil. Jenis ME ini terdiri dari 3 (tiga) macam ME yakni: (1) ME Pengelolaan Pemberian Block Grant kepada kelompok kerja tenaga kependidikan atau Compliance Monitoring; (2) ME Pengelolaan Kegiatan Non‐Block Grant atau kegiatan selain pemberian block grant kepada kelompok kerja tenaga kependidikan yang dalam penelitian ini disebut kelompok kerja Mandiri (Dirjen PMPTK, 2008:VII-2).

Provincial Program Implementation Unit (PPIU) pada setiap provinsi yang menjadi mitra Program BERMUTU merupakan unit implementasi program yang bertanggungjawab dalam kegiatan pemberdayaan kelompok kerja guru, kepala sekolah, dan pengawas (KKPS/MKPS), berdasarkan penugasan dari Ditjen PMPTK, termasuk dalam mengembangkan panduan dan instrumen untuk memberdayakan kelompok kerja tersebut, dan pengembangan proposal penyaluran dana bantuan langsung. Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut, LPMP mempunyai tugas dan fungsi melakukan kerjasama dengan P4TK dan DCT/TIK untuk mensupervisi, memonitor, dan mengevaluasi pemanfaatan Dana Bantuan Langsung yang disalurkan kepada kelompok kerja Guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Forum Kelompok Kerja (Dirjen PMPTK, 2008:III-13). Atas dasar pemikiran inilah LPMP Jawa Tengah mengembangkan instrumen ME dengan komponen yang meliputi pengorganisasian, persiapan pokja, kinerja pokja, sinergitas, dan peran stakehokder.

Dalam kegiatan ME konvensional biasa digunakan print out instrumen. Dalam penelitian ini dikembangkan instrumen digital berupa program aplikasi. Agar pelaksanaan ME berlangsung dengan sukses, diperlukan pembekalan untuk para petugas ME dalam bentuk kegiatan diklat. Dalam diklat itulah diperlukan program aplikasi yang berfungsi untuk media diklat interaktif dalam kegiatan simulasi ME.

B. Media Diklat Interaktif

Media yang efektif dalam suatu kegiatan pembelajaran, termasuk dalam kegiatan diklat dapat memberikan motivasi belajar. Motivasi belajar yang efektif akan meningkatan hasil belajar. Pembelajaran dengan materi yang menuntut pemahaman praktikal, membutuhkan media pembelajaran yang baik (Schunk, 2012: 345).

Multimedia Interaktif merupakan  istilah yang seringkali digunakan di dalam teknologi pendidikan terutama pada era revolusi teknologi informasi dewasa ini. Dalam peristilahan yang digunakan secara luas, istilah tersebut memiliki arti yang amat beragam pada spektrum media massa baik bahan cetak, audio, video, maupun teknologi yang dikembangkan berbasis paket piranti keras dan piranti lunak komputer yang diproduksi secara massal serta memungkinkan penggunaan secara individual untuk belajar. Istilah multimedia bisa digunakan pada berbagai level belajar berupa perangkat pendidikan  yang memungkinkan keanekaragaman presentasi materi pelatihan.

Multimedia merupakan kombinasi fungsional dari piranti keras dan piranti lunak komputer yang dalam pengembangnya memungkinkan pengintegrasian video, animasi, audio dan grafis untuk dikembangkan menjadi alat presentasi pada desktop komputer (Reddi, 2003: 4). Multimedia juga bisa dimanai sebagai alat presentasi yang memiliki karakteristik kombinasi fungsional dari teks, gambar, suara, animasi, dan video, yang beberapa diantaranya atau seluruhnya diorganisasikan menjadi suatu program yang koheren (Reddi, 2003: 4). Dari dua  pendapat tersebut, dapat dicari kesamaannya bahwa multimedia merupakan kombinasi fungsional yang diprogramkan secara teliti dari beberapa elemen yang meliputi teks, grafis, suara, animasi, dan video.

Dari terminologi multimedia kemudian dielaborasi menjadi Multimedia Interaktif.  Komponen interaktivitas suatu multimedia menggambarkan bahwa end user  multimedia tersebut ataupun audien dapat melakukan kontrol ‘apa’, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’  dari elemen tersebut muncul dan dipresentasikan. Dari deskripsi di atas multimedia interaktif dapat didefinisikan sebagai kombinasi sinergis dan simbiotis dari berbagai elemen media (audio, video, grafis, teks, animasi, dsb,) ke dalam suatu kesatuan program sehingga memberikan manfaat yang lebih optimal kepada end user dibandingkan bila elemen-elemen tersebut berfungsi secara Mandiri.

C. Multimedia Interaktif  Program Aplikasi Tipe Hypertext Tool Application

Multimedia Interaktif merupakan kombinasi dari berbagai fungsi. Berdasarkan jenis elemen-elemen yang dikombinasikan, Multimedia Interaktif dapat diklasifikasi ke dalam beberapa tipe. Reddi (2003: 13) mengelompokkan desain multimedia menjadi lima kategori: Painting and drawing tools, 3-D Modeling and animation tools, Image editing tools, Sound editing tools, dan Animation Video Digital Movie tools.  Sedangkan Fahy (2003: 5) mengemukakan ada lima spesifikasi multimeia interaktif berdasarkan karakteristik fungsionalnya yaitu: sound, graphics and color, animation, video, hypermedia, dan hypertext.

Berdasarkan klasifikasi di atas, maka desain multimedia yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah tipe hypertext yang mengkombinasikan spreadsheet application dengan visual basic application dengan platform Microsoft Excel.. Tipologi ini merupakan linking  dari value, kata, atau frasa ke value, kata atau  frasa lain pada dokumen yang sama ataupun pada dokumen berbeda (Fahy, 2003: 5).  Pada hakekatnya hypertext ini sulit dipisahkan dari desain aplikasi multimedia interaktif yang lain. Fahy (2003:6) menekankan bahwa seharusnya hypertext  lebih banyak digunakan untuk lebih memperluas akses terhadap informasi yang dibutuhkan, bukan untuk kepentingan aktualita diklat, namun sebagai langkah antisipatif terhadap kebutuhan akan materi pelatihan dalam konteks akselerasi pencapaian tujuan diklat (khususnya bagi peserta diklat yang belum memiliki prasyarat  pengetahuan materi tersebut atau yang kapabilitasnya kurang).

Fahy (2003: 7) mengestimasikan hypermedia dan hypertext memang memiliki prospek cerah untuk digunakan sebagai multimedia interaktif dalam kegiatan pelatihan. Didukung oleh perkembangan yang pesat dari piranti keras, piranti lunak, maupun teknologi  interface manusia-komputer, secara teknis pada saat ini sangat memungkinkan pemanfaatan hiperrmedia dan hypertext untuk pelatihan secara online. Kedua tipe multimedia interaktif ini memiliki keunggulan untuk pelatihan antara lain (Marchionini dalam Fahy, 2003: 8):

  • Sejumlah besar informasi dari berbagai macam media dapat disimpan dalam bentuk yang kompak dan mudah untuk diakses.
  • Hypermedia dan Hypertext memungkinkan kontrol dari peserta diklat secara leluasa (end users dapat secara leluasa memilih kapan, apa, dan bagaimana link yang diperlukan).

Hypermedia dan Hypertext memungkinkan fasilitator dan peserta diklat memiliki banyak ragam cara interaksi yang baru, memberikan reward kepada peserta diklat yang mampu mengasah keterampilan belajarnya secara penerima blockgrant, dan meningkatkan kreativitas fasilitator diklat dalam hal bagaimana cara ia berinteraksi dengan peserta diklat.

D. Spreadsheet Application

Spreadsheet application merupakan suatu file spreadsheet (atau sekelompok file yang saling terkait) yang dirancang sedemikian rupa sehingga seseorang yang bukan pengembangnya dapat mengerjakan sesuatu menggunakan program tersebut dengan benar tanpa latihan yang ekstensif. Program Spreadsheet application yang baik memiliki karakteristik berikut ini (Walkenbach, 2010:101):

  • Program memungkinkan end user melakukan pekerjaannya sedemikian rupa sehingga ia tidak melakukannya dengan cara di luar yang dikehendaki pengembang.
  • Program menyediakan solusi terhadap permasalahan secara memadai untuk pencapaian tujuan program.
  • Program menggunakan metode yang sesuai dan efisien serta algoritma untuk menuntaskan pekerjaan.
  • Program akan melokalisasi error sebelum end user terpaksa mengatasinya.
  • Program tidak memungkinkan end user untuk menghapus atau memodifikasi sebagian atau keseluruhan program baik secara sengaja ataupun tidak.
  • User interface dari program sangat jelas dan konsisten sehingga user selalu akan mengetahui bagaimana menggunakan program.
  • Elemen-elemen formula, macro, dan user interface terdokumentasi dengan baik, memungkinkan perubahan susulan jika memang dibutuhkan.
  • Program dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dimodifikasi dengan cara yang mudah tanpa perubahan mendasar. Kenyataan dalam hidup Kita adalah user membutuhkan perubahan setiap saat.
  • Program memiliki kemudahan dalam mengakses sistem bantuan dengan menyediakan informasi yang memadai dan sangat bermanfaat paling tidak dalam hal prosedur utama.
  • Program dirancang bersifat portable dan mampu run pada banyak sistem yang memiliki piranti lunak dengan spesifikasi yang lebih tinggi (dalam hal ini, untuk semua versi Excel yang sesuai).

E. Visual Basic Application Excel

VBA merupakan kependekan dari Visual Basic for Applications. Aplikasi Visual Basic di dalam Excel 2007 menjadi salah satu bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Microsoft. Excel adalah salah satu elemen dari Microsoft Office 2007. VBA merupakan alat yang bisa Kita pergunakan untuk mengembangkan program yang mengontrol Excel. Kita harus membedakan VBA dengan VB yang merupakan kependekan dari Visual Basic. VB merupakan bahasa pemrograman yang memungkinkan Kita membuat program executable (File exe) Mandiri. Jadi, VBA berbeda dengan VB (Walkenbach, 2003: 6).

Karena merupakan bahasa pemrograman yang riil dan live, VBA mempergunakan banyak elemen bahasa pemrograman yang sering dipergunakan. Di antara beberapa elemen bahasa pemrograman tersebut adalah: comments, variables, constants, data types, dan arrays (Walkenbach,  2004: 89).

Dalam pemrograman VBA Excel 2007 beberapa tipe data digunakan. Tipe data merupakan istilah yang biasa dipergunakan untuk menyebutkan bagaimana cara dari suatu program menyimpan data dalam memori — sebagai misal, integers, real numbers, atau data strings. Meskipun VBA dapat menangani detail tipe data tersebut secara otomatis, namun ada konsekuensi yang harus diperhitungkan.  Namun konsekuensinya tidak seberapa dibandingkan dengan manfaatnya. Misalkan Kita tidak mempergunakan VBA untuk menangani entri data menyebabkan eksekusi menjadi lambat dan penggunaan memori yang tidak efisien. Untuk aplikasi yang sederhana, hal seperti ini tidak menjadi masalah yang serius. Namun untuk aplikasi yang lebih besar dan lebih kompleks akan menyebabkan kerja program menjadi lambat atau membutuhkan konservasi setiap memori yang tersisa, Pada saat itulah Kita membutuhkan pengenalan yang lebih mendalam tentang tipe data (DeMarco, 2007: 30).

VBA memang secara otomatis menangani semua data secara detail, yang membuat Kita menjadi nyaman dalam melakukan pemrograman. Tidak semua bahasa pemrograman memberikan kenyamanan seperti ini. Misalnya, ada bahasa pemrograman yang semata-mata hanya mengetik saja, sehingga seorang pemrogram harus secara eksplisit mendefinisikan secara operasional tipe data untuk setiap variabel yang digunakan (Walkenbach, 2007: 97).

Dengan VBA Excel memungkinkan kita menggunakan menu yang disebut UserForm. Excel 2007 memungkinkan Kita bisa menciptakan screen data entri yang mudah digunakan oleh end users.  Program seperti ini dapat juga berfungsi sebagai wahana display untuk summary data ataupun data itu sendiri dari berbagai sumber data.  Program ini juga menyediakan untuk Kita tools yang Kita butuhkan untuk menciptakan “wizard” aplikasi atau form data entri sederhana  (DeMarco, 2008: 30).

Bahasa pemrograman VBA dalam Excel menurut John Green (2007: 30) terdiri dari beberapa elemen yang berlaku secara umum untuk semua versi VB dan aplikasi Microsoft Office. Contoh-contoh berikut merupakan bahasa yang memanfaatkan model objek Excel, namun tujuannya adalah menguji struktur umum dari bahasa pemrograman. Beberapa dari struktur dan konsep tersebut dikenal oleh bahasa pemrograman yang lain, meskipun sintaks dan kata kuncinya bisa sangat bervariasi. Elemen tersebut adalah sebagai berikut:

  • Penyimpanan informasi dalam variabel dan array.
  • Pembuatan keputusan dalam kode
  • Penggunaan loops.
  • Penanganan basic error.

Penggunaan VBA dalam Excel memiliki beberapa keunggulan (Walkenbach, 2007: 15), antara lain:

  • Excel selalu selalu mengeksekusi suatu task dengan cara yang selalu sama persis.
  • Dengan VBA, Excel melakukan task jauh lebih cepat daripada dilakukan secara manual.
  • Dengan macro, Excel selalu memiliki performans tanpa kesalahan.
  • Semua task yang diprogramkan dapat dilakukan Excel meskipun user masih awam tentang excel.
  • Dengan VBA banyak hal yang bisa Kita lakukan, yang tidak akan bisa Kita lakukan dalam Excel tanpa VBA.
  • Untuk tugas-tugas Excel yang membutuhkan waktu lama dan membosankan, VBA bisa mengurangi durasi waktu dan kebosanan tersebut.

Di samping beberapa keuntungan di atas, VBA juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  • User program VBA yang telah kita buat, harus sudah memiliki program Excel dalam komputernya. Memang lebih nyaman bagi Kita jika tinggal menekan satu tombol yang dapat mentransformasikan aplikasi Excel VBA kita ke dalam suatu program Mandiri, namun hal seperti ini tidak mungkin Kita lakukan (dan mungkin tidak akan pernah bisa Kita lakukan).
  • Kadang-kadang program tidak bisa berfungsi. Dengan kata lain, Kita tidak bisa begitu saja dengan mudah berasumsi bahwa program VBA Kita akan berfungsi dengan sempurna dalam semua kondisi. Di sini peran debugging menjadi sangat esensial.
  • VBA merupakan sasaran bergerak. Sebagaimana Kita maklumi bersama, Microsoft senantiasa meng-upgrade Excel. Boleh jadi program Excel VBA yang kita buat tidak bisa beroperasi dengan baik di versi Excel generasi berikutnya.

F. Aplikasi Multimedia Interaktif Tipe Hypertext Tool Application dalam Simulasi ME KKPS/MKPS Mandiri

Simulasi ME KKPS/MKPS Mandiri adalah suatu kegiatan dalam Diklat ME Program BERMUTU yang diikuti oleh calon petugas ME di LPMP Jawa Tengah. Sebagian besar peserta, yaitu 90% dari peserta (data primer) tidak memahami penggunaan formula dalam excel. Mereka tidak memiliki waktu memadai untuk mengeksplorasi rumus-rumus penghitungan skor akhir dalam pengolahan data hasil ME. Berdasarkan deskripsi karakteristik program Hypertext Tool Application dan VBA Excel di atas, maka Peneliti memandang program yang akan dikembangkan sangat sesuai dengan karakteristik peserta diklat.

G. Pengembangan Model Desain Instruksional dengan Menggunakan Multimedia Interaktif

Model pengembangan multimedia interaktif untuk kegiatan diklat di dalam penelitian ini mengadopsi dari Parhar (2003: 32). Dengan membandingkan berbagai model desain berdasarkan berbagai teori belajar, Parhar mendeskripsikan beberapa komponen yang sama dari langkah-langkah pengembangan desain instruksional dengan memanfaatkan multimedia interaktif, yaitu:

  1. Perumusan tujuan pembelajaran mata diklat yang dapat dirinci sebagai berikut:
  2. Identifikasi dan analisis tujuan pembelajaran dari mata diklat.
  3. Perencanaan dan solusi desain untuk pencapaian tujuan tersebut.
  4. Implementasi dari solusi tersebut.
  5. Analisis isi multimedia interaktif yang dikembangkan.
  6. Pemilihan jenis multimedia yang sesuai untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
  7. Pembuatan multimedia interaktif.
  8. Evaluasi keefektivan multimedia yang dikembangkan.

Model desain instruksional untuk kegiatan diklat dengan memanfaatkan teknologi bisa didefinisikan sebagai representasi visual dari suatu proses desain instruksional, berupa elemen-elemen utama atau frasa dari proses dan hal-hal yang terkait. Pendekatan sistemnya meliputi perumusan sasaran dan tujuan, analisis sumber, merencanakan kegiatan, dan evaluasi berkelanjutan dan modifikasi dari program. Pendekatan sistem seperti ini sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1950-an dan 1960-an dan berakar di militer dan koorporasi, namun mulai mendominasi dunia pendidikan teknologi dan pembangunan pendidikan sejak tahun 1970-an. (Chen, 2011:81 ).

H. Kriteria Kelayakan Multimedia Interaktif Tipe Hypertext Tool Application

Ada paling sedikit sebelas faktor kualitas yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan suatu piranti lunak  (Edward Hasted, 2005: 121), yaitu:

  1. Valid,  suatu program aplikasi disebut valid apabila program tersebut dapat berfungsi sesuai dengan tujuan program tersebut dibuat.
  2. Reliabel, yaitu program aplikasi tersebut harus mampu beroperasi dengan akurat.
  3. Efisien, suatu program aplikasi harus mampu bekerja di dalam jaringan dan sistem secara memadai dan tanpa hambatan.
  4. Memiliki integritas, artinya program aplikasi yang dibuat harus memiliki ketahanan tinggi terhadap virus dan hacking.
  5. Keterpakaian, program aplikasi yang baik haruslah bersahabat dan  mudah digunakan oleh para user.
  6. Maintainabilitas, ketika program aplikasi mengalami kerusakan harus bisa diperbaiki secepatnya.
  7. Fleksibilitas, program aplikasi yang baik harus memiliki fleksibilitas di berbagai platform, misal bisa digunakan di berbagai operating system.
  8. Testabilitas, suatu program aplikasi yang baik haruslah bisa diuji kinerja dan kelayakannya.
  9. Portabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus bisa beroperasi di operating system generasi yang baru.
  10. Reusabilitas,yaitu suatu kondisi yang ideal di mana modularitas kode dan scratch dari suatu program aplikasi dapat diimpor oleh suatu proyek baru.
  11. Interoperabilitas, suatu program aplikasi yang baik harus harus bisa bekerja berbarengan dengan program aplikasi lain.

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian di dalam tulisan ini adalah penelitian pengembangan. Dalam hal ini, Peneliti mePengembangan media diklat interaktif tipe Hypertext Tool Application. Media diklat interaktif ini dipergunakan untuk kegiatan diklat ME BERMUTU 2013.

B.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian pengembangan ini dilaksanakan di LPMP Jawa Tengah. Pelaksanaanya dalam kurun waktu mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian sampai dengan penyusunan laporan penelitian dimulai dari akhir bulan Februari 2013, dan di akhiri dengan penyusunan artikel penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei 2013.

C. Prosedur Pengembangan

1. Survei dan Studi Literatur

Studi literatur dilakukan dengan melakukan kajian dari buku, buku elektronik, jurnal, dan browsing internet. Subjek kajian meliputi metodologi penelitian pengembangan, statistik, supervisi, multimedia interaktif, kegiatan diklat, teknologi piranti keras komputer, program aplikasi tipe Hypertext Tool, Spreadsheet Application dan VBA Excel. Studi dielaborasikan melalui wawancara dengan pakar penilaian pendidikan, pakar informasi teknologi, dan pakar metodologi penelitian.

2.Analisis dan Perancangan Sistem

Berdasarkan deskripsi pada bab sebelumnya, multimedia interaktif yang efektif dapat memfasilitasi peserta diklat mensimulasikan kegiatan yang akan dilakukan di lapangan nanti. Dengan bantuan program aplikasi tipe Hypertext Tool, Spreadsheet Application dan VBA akan membantu para peserta diklat menginput data hasil ME Program BERMUTU KKPS/MKPS Mandiri, kemudian program otomatis akan menganalisis data dan menyajikan hasil analisi data serta memvisualisasikan hasilnya dalam bentuk grafik.  Otomatisasi semua pekerjaan tersebut akan membuat peserta diklat bisa menyelesaikan tugasnya secara lebih cepat,  akurat,  akuntabel,  efisien dan  efektif.

D.Desain Sistem

Desain sistem multimedia interaktif yang akan diPengembangan digambar pada bagian berikut.  Gambar tersebut menunjukkan blok diagram alur aplikasi pengolahan data untuk simulasi ME KKPS/MKPS Mandiri Program BERMUTU secara umum. Input data meliputi identitas yaitu nama responden dan nama KKPS/MKPS, data pengorganisasian KKPS/MKPS, data persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, data kinerja kelompok kerja, data sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta data peran stakeholder KKPS/MKPS. Proses pengolahan data menggunakan Program Aplikasi Hypertext Tool dengan mengkombinasikan Spreadsheet Application dan Visual Basic Application dalam platform Microsoft Excel. Output data meliputi nama responden dan nama KKPS/MKPS, profil pengorganisasian KKPS/MKPS, profil persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, profil kinerja kelompok kerja, profil sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta profil peran stakeholder KKPS/MKPS disertai dengan visualisasi grafik masing-masing profil serta grafik profil KKPS/MKPS secara keseluruhan.

Gambar 01 Blok Diagram

Gambar 01. Blok Diagram Aplikasi Multimedia Interaktif

Simulasi ME KKPS/MKPS Mandiri Program BERMUTU

1.System Flow Utama

System flow utama ditunjukkan pada gambar berikut. Penggunaan perangkat dimulai menu open file dari file master. Karena file ini menjadi master sehingga diproteksi. Untuk membukanya bisa diplih menu read only. Sebelum file master terbuka, harus dilakukan login berupa menyimpan data tersebut menjadi file baru dengan nama yang disesuaikan dengan nama responden dan nama KKPS/MKPS-nya. Langkah kedua adalah membuka lembar kerja pertama berupa halaman input data dengan diawali isian identitas nama responden dan nama KKPS/MKPS-nya. Langkah ini berperan sebagai log masuk karena identitas yang dituliskan akan menjadi kata kunci untuk masuk ke dalam sistem penyimpanan data untuk responden yang bersangkutan.

Gambar 02 Sistem Flow Utama

Gambar 02. System Flow Utama

Ketika isian identitas selesai dilakukan, bisa dilanjutkan dengan menu berikutnya dengan cara melakukan scroll ke bagian halaman di bawahnya, yaitu mulai masuk ke menu utama aplikasi. Input data menu aplikasi terdiri input data pengorganisasian KKPS/MKPS, data persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, data kinerja kelompok kerja, data sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta data peran stakeholder KKPS/MKPS. Setiap input data akan diproses secara langsung. Jadi jika kita lihat di halaman output, akan langsung muncul tampilan menu outputnya.

Di dalam proses pengolahan data digunakan berbagai formula dari spreadsheet application dan VBA Excel. Menu menu yang digunakan sangat kompleks sehingga tidak bisa dideskripsikan dalam tulisan yang terbatas ini. Sebagian dari menu function yang digunakan adalah IF, SUM, AVERAGE, COUNTA, option button,  dan kombinasi diantara menu-menu tersebut.

Selama input data berlangsung, pengolahan data akan berlangsung secara simultan sehingga outputnya juga muncul sekaligus. Data-data yang dihasilkan meliputi nama responden dan nama KKPS/MKPS, profil pengorganisasian KKPS/MKPS, profil persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, profil kinerja kelompok kerja, profil sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta profil peran stakeholder KKPS/MKPS disertai dengan visualisasi grafik masing-masing profil serta grafik profil KKPS/MKPS secara keseluruhan.

2. Hierarchy Input Process Output (HIPO)

Dalam Pengembangan media diklat ini, secara hirarkhis program aplikasi dibagi menjadi dua elemen yaitu maintenance aplikasi dan output berupa simulasinya. Elemen maintenance terdiri dari enam sub yaitu maintenance identitas responden, maintenance pengorganisasian KKPS/MKPS, maintenance persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, maintenance kinerja kelompok kerja, maintenance sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta maintenance peran stakeholder KKPS/MKPS.

Simulasi terdiri beberapa elemen dari enam sub juga, yaitu simulasi identitas responden, simulasi pengorganisasian KKPS/MKPS, simulasi persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, simulasi kinerja kelompok kerja, simulasi sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta simulasi peran stakeholder KKPS/MKPS.

Gambar 03 HIPO

Gambar 03. HIPO

3. Flowchart Aplikasi

Flowchart aplikasi terdiri dari dua bagian, yaitu untuk admin dan untuk pengguna. Alur program dimulai dari bagian admin yaitu menu buka file master, menu login berupa pilihan read only, langsung save as menjadi file user, yang selanjutnya oleh admin akan diolah melalui maintenance user menjadi data user yang kemudian mengalir ke bagian pengguna. Aplikasi untuk pengguna dimulai dari file user, isian identitas nama responden dan nama KKPS/MKPS, data pengorganisasian KKPS/MKPS, data persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, data kinerja kelompok kerja, data sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta data peran stakeholder KKPS/MKPS. Selanjutnya data diproses di bagian admin, yang berarti menganalisis data-data tersebut di atas.  Setelah diproses, maka keluar output berupa nama responden dan nama KKPS/MKPS, profil pengorganisasian KKPS/MKPS, profil persiapan pelaksanaan kegiatan dalam kelompok kerja, profil kinerja kelompok kerja, profil sinergitas antar kelompok kerja yang secara struktur berada di bawahnya yaitu kepala sekolah dan guru, serta profil peran stakeholder KKPS/MKPS disertai dengan visualisasi grafik masing-masing profil serta grafik profil KKPS/MKPS secara keseluruhan.

Gambar 04 Flowchart Aplikasi

Gambar 04. Flowchart Aplikasi

4. Data Flow Diagram

Dalam Pengembangan suatu program aplikasi harus dibuat suatu model untuk menggambarkan pembagian dari sistem ke dalam model yang lebih kecil. Model seperti ini disebut Data Flow Diagram (DFD) yang kemudian dirinci ke dalam level-level tertentu untuk menjelaskan rinciannya.

a. Context Diagram

 Gambar 05 Context Diagram

Gambar 05. Context Diagram Media Diklat

Simulasi ME Program BERMUTU KKPS/MKPS Mandiri

Gambar di atas menggambarkan Context Diagram dari aplikasi, yaitu diagram yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Context Diagram akan memberikan gambaran tentang keseluruhan sistem, yang kemudian akan dirinci ke dalam diagram yang lebih rinci.

b. DFD Level 0

Gambar 06 DFD Level 0

 Gambar 06. DFD Level 0

Karena keterbatasan ruang untuk tulisan ini, maka hanya DFD Level 0 saja yang bisa digambarkan. DFD level 0 merupakan rincian dari Context Diagram. Pada gambar divisualisasikan ada empat bagian utama, yaitu bagian admin, bagian maintenance, bagian simulasi, dan bagian user. DFD level 0 ini dapat digambarkan sebagai berikut.

E. Evaluasi

1. Subjek Uji Coba

Uji coba merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari suatu penelitian pengembangan. Proses pengujian produk tersebut dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Dalam suatu kegiatan pengembangan, pengembang mungkin hanya melewati dan berhenti pada tahap uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok kecil. Bisa juga sampai ke uji lapangan dengan skala yang lebih luas. Hal ini sangat tergantung pada urgensi dari data yang dibutuhkan melalui uji coba itu, dan bergantung pada skala penggunaan barang yang dihasilkan (UM, 2003; Borg, 1983).

a. Uji Coba Ahli Isi 

Uji coba ahli dilakukan oleh pakar supervisi pendidikan. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap substansi materi ME Program BERMUTU dengan sasaran KKPS/MKPS Mandiri. Instrumen uji coba ini berupa angket yang berbeda dengan uji coba perorangan.

b. Uji Coba Perorangan

Subjek uji coba perorangan terdiri dari 10 orang calon pengguna, yaitu 2 orang fasilitator mata diklat dan 8 orang yang pernah menjadi peserta Diklat ME Program BERMUTU KKPS/MKPS Mandiri LPMP Jawa Tengah. Tahap ini bertujuan untuk melakukan evaluasi keefektifan program aplikasi yang diPengembangan baik sebagai media diklat maupun sebagai program aplikasi ME Program BERMUTU KKPS/MKPS Mandiri yang bisa digunakan di lapangan.

2. Instrumen Pengujian

Evaluasi uji coba dalam penelitian pengembangan ini menggunakan instrumen angket dengan menggunakan Skala Likert dengan 4 pilihan. Angket terlebih dahulu divalidasi menggunakan instrumen telaah soal dari Depdiknas (Direktorat Pembinaan SMA, 2007) setelah terlebih dahulu dimodifikasi. Telaah validitas meliputi validitas muka, validitas konstruk, dan validitas isi. Telaah instrumen dimintakan pertimbangan pakar penelitian.

3. Teknik Analisis Hasil Pengujian

Proses analisis data yang didapat ditujukan untuk mengetahui respon pengguna akhir terhadap program aplikasi yang telah diPengembangan. Hasil angket akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis item summated scales  dari Skala Likert (Kothari,2004:83 ).

Dalam analisis item summated scales, skor akhir diperoleh dengan cara menjumlahkan angka untuk setiap jawaban dari hasil angket. Dari jumlah itu, dapat dibedakan taraf atau intensitas sikap peserta diklat terhadap aplikasi yang digunakannya. Adapun analisis tersebut untuk setiap butir pertanyaan menggunakan rumus:

Picture7

Dari skor setiap butir pertanyaan, kemudian dikonversi ke dalam kategori sebagai berikut (Suharsimi, 2010: 192;  Kothari, 2004: 85 ):

76%  – 100% = sangat baik/menarik/sesuai/efektif

51%  – 75%   = baik/menarik/sesuai/efektif

26%  – 50%   = kurang baik/menarik/sesuai/efektif

0%    – 25%   = tidak baik/menarik/sesuai/efektif

IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

A. Implementasi

1. Perangkat Lunak

a. OS Windows 7 Ultimate 32 bit

b. Visual Basic Application Excel MS Office 2007

2. Perangkat Keras

a. Netbook

b. Prosessor: Intel Atom CPU N450 @ 1,66 GHz

c. Memory: 1024 MB RAM

d. Display: Intel Media Graphic Accelerator 3150 memori 250 MB

e. Monitor: Generic PnP Monitor 32 bit

3. Instalasi

Untuk instalasi program aplikasi ini langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

a. Copy program aplikasi ke hardisk

b. Buka file masternya, maka akan muncul permintaan konfirmasi password. Pilih menu read only.

c. Setelah program aplikasi terbuka, save as dan beri nama dengan nama user yaitu nama responden dan nama KKPS/MKPS Mandiri yang akan menjadi subjek ME Program BERMUTU. Langkah ini adalah langkah terakhir dalam instalasi.

4. Implementasi Input dan Output

a. Form Identitas Aplikasi

Form utama aplikasi adalah lembar kerja yang berisi judul program aplikasi, isian data nama resonden, nama KKPS/MKPS DBL, dan data identitas lainnya.

Gambar 07 Lembar Identitas

Gambar 07. Lembar Input Data Identitas

b. Form Input Data

Menu berikutnya adalah sheet kedua yaitu input data. Dengan pertimbangan untuk mempermudah responden dalam mengisi instrumen, semua komponen data dimasukkan di halaman ini.

Gambar 08. Input Data

Gambar 08. Lembar Input Data

c. Output Profil KKPS/MKPS Mandiri

 Gambar 09 Output Data

Gambar 09. Lembar Output Visualisasi Hasil ME KKPS/MKPS Mandiri

Lembar output ini menjadi sajian utama hasil program aplikasi ini, berupa hasil pengolahan data tentang profil KKPS/MKPS Mandiri beserta visualisasinya dalam bentuk diagram batang. Pada halaman ini disajikan profil pengorganisasian, profil persiapan, profil kinerja, profil sinergitas, profil peran stakeholder dan profil gambaran umum kelompok kerja.

B. Hasil Evaluasi

1. Hasil Uji Coba Ahli ME Program BERMUTU

Uji coba ahli dilaksanakan dengan subjek seorang National Core Team Program BERMUTU.

Tabel 01. Uji Coba Ahli Isi

Tabel 01 Uji Coba Ahli

Dari uji coba ahli diperoleh gambaran bahwa semua komponen program aplikasi termasuk kategori sangat baik sehingga tidak perlu perbaikan.

2. Hasil Uji Coba Perorangan

Uji coba perorangan dilaksanakan dengan subjek 2 orang fasilitator dan 8 peserta diklat. Berdasarkan tabel hasil uji coba perorangan menunjukkan bahwa semua komponen program sudah berfungsi dengan sangat baik, yaitu memperoleh skor di atas 75%. Dengan demikian Peneliti tidak perlu mengadakan perbaikan.

Tabel 02. Uji Coba Perorangan

Tabel 02 Uji Coba Perorangan

3.  Diseminasi Program

Program aplikasi yang dikembangkan di dalam penelitian ini perlu didiseminasikan agar bermanfaat sebagai multi media diklat interaktif sekaligus sebagai instrumen monev yang efektif. Setelah program aplikasi berfungsi dengan baik sesuai tujuan pengembangannya, maka langkah selanjutnya adalah diseminasi kepada semua pemangku kepentingan yang membutuhkan. Diseminasi dilakukan kepada para peserta ketika diklat ME KKPS/MKPS Mandiri berlangsung dan diunggah di web sehingga bisa diunduh semua orang yang membutuhkan. Hasil berupa laporan penelitian diuanggah di www.lpmpjateng.co.id sedangkan program aplikasinya diunggah ke www.ziddu.com.

Adapun alamat webnya sebagai berikut:

http://www.ziddu.com/download/22112254/12.MASTERKKPSMKPSNONDBL.xls.html

V. PENUTUP

A.Simpulan

Uji coba media diklat interaktif program aplikasi simulasi ME KKPS/MKPS Mandiri yang telah diPengembangan dalam penelitian pengembangan ini, disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah diPengembangan dapat berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu fasilitator diklat dalam mensimulasikan ME KKPS/MKPS Mandiri.
  2. Program aplikasi yang telah diPengembangan dapat berfungsi sebagai media diklat yang dapat membantu calon petugas ME sebagai peserta diklat memahami proses ME KKPS/MKPS Mandiri.
  3. Program aplikasi yang telah diPengembangan dapat digunakan pengguna untuk melaksanakan ME KKPS/MKPS Mandiri secara lebih efisien dan efektif.

B. Saran

Dari hasil penelitian pengembangan media diklat interaktif  program aplikasi simulasi ME KKPS/MKPS Mandiri ini disarankan untuk penelitian lanjutan sebagai berikut:

  1. Program aplikasi yang telah diPengembangan dapat dikembangkan lagi menjadi program aplikasi ME KKPS/MKPS Mandiri yang terintegrasi dengan SIM KKPS/MKPS.
  2. Program aplikasi yang telah diPengembangan dapat dikembangkan lagi menjadi program aplikasi ME KKPS/MKPS Mandiri yang terintegrasi dengan SIM Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aseltine, James M. 2006. Supervisison for Learning: A Performance-Based Approach to Teacher Development and School Improvement. Alexandria Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.

Borg, Walter H. Dan Meredith Damien Gal. 1983. Educational Research: An Itntroduction. New York: Longman Inc.

Chen, Irene.2011. Instructional Design Methodologies. Dalam Kristin Klinger. Instructional Design:Concepts, Methodologies, Tools, and Applications. Hershey, New York: Information Science Reference.  .

DeMarco, John. 2008. Pro Excel 2007 VBA: Learn to build high-performance applications in Excel 2007 using VBA. Berkeley:Apress.

Fahy, Patrick J. 2003. Planning for Multimedia Learning. Dalam Sanjaya Mishra dan Ramesh C. Sharma. Interactive Multimedia in Education and Training (hal. 1-24). London: Idea Group Publishing.

Green, John, dkk. 2007. Excel 2007 VBA: Programmer’s Reference. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Gyurky, Szabolcs Michael de. 2006. Work Out Change: Systemic Innovation in Vocational Education and Training. OECD: Centre for Educational Research and Innovation.

Harvey, Greg. 2010. Excel 2010 All in One for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Hasted, Edward.2005. Software That Sells: A Practical Guide to Developing and Marketing Your Software Project.Indianapolis:Wiley Publishing Inc.

Hill, Peter.L. 2011. Practical Software Project Estimation: A Toolkit for Estimating Software Development Effort & Duration. New York: Mc. Graw Hill.

Jelen, Bill and Dwayne K. Dowell. 2007. Excel forAuditors. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2005. Learn Excel from Mr, Excel. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2008. 377 Excel Mysteries Solved. Uniontown: Holy Macro! Books.

Jelen, Bill. 2009. Excel Gurus Gone Wild. Uniontown: Holy Macro! Books.

Kothari,C.R. 2004. Research Methodology:Methods and Techniques. New Delhi: New Age International (P) Ltd., Publishers.

Michael Spector. 2008.  Handbook of Research on Educational Communications and Technology (Third Edition). New York: Lawrence Erlbaum Associates.

Parhar, Madhu. 2003. Instructional Design for Multimedia. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 27-38). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No. 9 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Widyaiswara. (Online: http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/pedoman.html. Direktorat Pembinaan Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara. Diakses tanggal 02022012).

Peraturan Pemerintah no.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. (CD ROM Materi Diklat KTSP SMA 2008 Direktorat Pembinaan SMA: KTSP SMA 2008).

Reddi, Usha V.2003. Educational Media: A Handbook for Teacher-Developers. Dalam Reddi, Usha V dan Sanjaya Mishra (Eds) : Multimedia as An Educational Tool (hal. 3-13). New Delhi: Commonwealth Educational Media Centre for Asia.

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories, An Educational Perspective. Boston: Pearson Education Inc.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2008. POM (Project Operational Manual) BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading). (CD ROM Materi Diklat Provincial Core Team BERMUTU, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012).

Suharsimi Arikunto.2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah & Pengawas. Yogyakarta:Aditya Media.

Taylor, Edward W. 2008. Transformative Learning Theory. Dalam Merriam, Sharan B (Eds). Third Update on Adult Learning Theory (hal. 5-13). San Francisco: Wiley Periodicals.

Universitas Negeri Malang. 2003. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.

Verschuuren, Gerard,M.2006. From VBA to PSTO: Is Excel’s New Engine for You?. United States: Holy Macro! Books.

Walkenbach, John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Walkenbach, John. 2010. Excel 2010 Power Programming with VBA. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach, John. 2010. Microsoft Excel 2010 Formulas. Indianapolis: Wiley Publishing Inc..

Walkenbach,John. 2004. Excel VBA Programming for Dummies. Indianapolis: Wiley Publishing Inc.

Wang, Victor C.X. 2010. Effective Teaching with Technology in Adult Education. Dalam Wang, Victor C.X. Integrating Adult Learning and Technologies for Effective Educaton: Strategic Approach (hal. 48-61). Hershey New York: Information Science Reference.

World Bank. 2007. Project Appraisal Document on Better EducationThrough Reformed Management and Universal Teacher Upgrading. (CD ROM Materi Diklat Provincial Core Team BERMUTU, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012).